Klaim Purbaya soal Modal Asing Guyur RI Realistis atau Omon-omon?
Yusuf mengingatkan risiko akan semakin besar jika eskalasi di Selat Hormuz berlanjut dan harga minyak melonjak. Kondisi tersebut dapat menekan fiskal Indonesia karena pemerintah harus memilih antara menaikkan harga energi atau menambah subsidi.
Menurut dia, Indonesia cenderung menahan harga energi yang berarti belanja negara berpotensi meningkat signifikan dalam waktu cepat.
Masalahnya, kata dia, hal itu terjadi ketika struktur fiskal Indonesia belum cukup kuat. Penerimaan negara masih rentan terhadap pelambatan ekonomi, sedangkan kebutuhan belanja, baik untuk perlindungan sosial, energi, maupun program prioritas, terus meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, kenaikan belanja akibat shock energi tidak datang dalam ruang kosong, tapi menekan struktur fiskal yang sudah sempit.
Di titik itu, risiko pelebaran defisit bukan sekadar kemungkinan, tapi konsekuensi logis jika tidak ada penyesuaian kebijakan yang tegas.
"Yang sering luput, investor membaca ini sangat cepat. Mereka tidak menunggu defisit benar-benar melebar. Mereka bereaksi pada arah kebijakan," ujar Yusuf.
Kalau terlihat pemerintah cenderung menahan harga energi tanpa strategi pembiayaan yang jelas atau mengandalkan utang tanpa narasi fiskal yang kredibel, maka persepsi risiko dinilai akan langsung naik. Dampaknya bukan hanya ke defisit, tapi ke biaya utang, nilai tukar, dan stabilitas pasar keuangan.
Sederet Hambatan Investor Masuk RI
Syafruddin Karimi mengatakan hambatan utama investor masuk ke Indonesia saat ini berasal dari tiga faktor.
Pertama, tekanan eksternal seperti penguatan dolar, konflik geopolitik, dan kenaikan harga energi yang mendorong investor keluar dari emerging markets.
"Thailand mengalami arus keluar besar saat guncangan energi meningkat dan pola regional ini memberi peringatan bahwa Indonesia bisa ikut terkena gelombang yang sama," ujar Syafruddin.
Kedua, tekanan domestik di pasar keuangan, terutama rupiah yang lemah membuat investor takut masuk terlalu cepat karena risiko kurs dapat menghapus imbal hasil portofolio.
Ketiga, pasar masih menunggu bukti, bukan janji. Investor disebut ingin melihat stabilitas kurs, arah kebijakan yang konsisten, dan koordinasi fiskal-moneter yang kuat sebelum menaikkan eksposur.
Ia menyarankan pemerintah menjaga stabilitas rupiah, memperkuat komunikasi kebijakan, memperdalam basis investor domestik, serta mempercepat penggunaan local currency transaction yang pada Januari-Februari 2026 naik 163 persen menjadi US$8,45 miliar.
Langkah terakhir dinilai penting karena Indonesia tidak cukup hanya mengejar masuknya dolar dari investor asing. Indonesia disebut juga perlu mengurangi kebutuhan dolar dalam perdagangan.
Lihat Juga : |
Selain itu, Yusuf Rendy Manilet menilai hambatan investor juga bersifat struktural. Sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menunjukkan masih adanya isu kepercayaan terhadap kualitas pasar, transparansi, integritas harga, dan kepastian aturan.
"Ini krusial karena tanpa kepercayaan, minat investor tidak akan benar-benar terkonversi menjadi investasi yang bertahan," ujar Yusuf.
Hambatan tidak berhenti di situ. Ia menyebut ada tata kelola pasar yang belum sepenuhnya kredibel, ketidakpastian regulasi, dan arah kebijakan fiskal yang mulai dipertanyakan di tengah tekanan eksternal.
"Dalam konteks itu, investor outreach seperti pertemuan di forum internasional memang penting, tapi bukan penentu utama," ucap Yusuf.
(ins) Add
as a preferred source on Google