Penyesuaian Harga BBM Tak Pengaruhi Masyarakat Menengah-Bawah
Sektor energi tengah mengalami badai besar dan tantangan tak biasa dalam beberapa waktu terakhir ini. Perang di Iran sebagai salah satu negara produsen minyak terbesar jadi biangnya.
Iran adalah negara dengan cadangan minyak terbesar ketiga di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi. Selain itu, Iran juga menguasai Selat Hormuz, jalur utama pelayaran, termasuk untuk pengangkutan minyak di negara-negara Teluk.
Sebanyak 20-25 persen perdagangan minyak dunia melewati selat selebar 39 km ini. Perang membuat Iran menutup jalur pelayaran. Hampir semua negara terdampak, terutama sektor energi.
Harga minyak mentah dunia melonjak drastis. Harga bahan bakar minyak (BBM) hampir di semua negara naik, termasuk di Amerika Serikat, yang memerangi Iran dan baru menguasai Venezuela yang kaya minyak.
Setelah bertahan 7 pekan sejak perang Iran pecah harga BBM di Indonesia sama sekali tak naik, penyesuaian akhirnya dilakukan pemerintah per 18 April 2026.
Namun penyesuaian harga hanya dilakukan untuk BBM dengan research octane number (RON) 98 dan produk diesel non subsidi.
Produk Pertamina, pertamax turbo dari semula Rp13.100 disesuaikan menjadi Rp19.400 per liter. Dextlite dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter dan pertamina dex yang semula Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.
Sementara harga BBM bersubsidi pertalite dijamin tidak naik hingga akhir tahun. Pemerintah juga sampai saat ini belum menaikkan harga BBM non subsidi RON 92 (pertamax) dan RON (95) pertamax green.
Dengan tidak naiknya tiga produk pertalite, pertamax dan pertamax green, stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat menengah bawah bisa terjaga.
Meski ada kenaikan, namun harga baru tiga produk Pertamina ini masih di bawah rata-rata harga minyak di negara-negara lain.
Pertamax turbo misalnya di mana harga rata-rata negara-negara lain Rp29.200. Di Jepang Ron 98 dihargai Rp21.100 dan di China Rp24.600. Di Thailand lebih mahal lagi yakni Rp34.845. Tertinggi di Singapura seharga Rp58.217.
Pertamax green ron 95 di Indonesia yang harganya tetap di angka Rp12.900, lebih murah dibanding harga rata-rata negara lain yakni Rp25.666. Hampir semua negara-negara tetangga RI menjual BBM ron 95 lebih mahal.
Begitu pula harga BBM diesel di Indonesia seperti Pertamina Dex dan Dexlite. Dua produk ini masing-masing kini berharga Rp23.600 dan Rp23.900 dan masih di bawah rata-rata harga di negara lain yakni Rp27.459.
Di Singapura dan Malaysia harga BBM diesel juga lebih mahal dibanding harga di Indonesia yakni Rp28.953 dan Rp65.884.
Sementara jika dibanding dengan SPBU swasta di Indonesia, harga BBM Pertamina juga masih lebih kompetitif dan dengan pasokan yang lebih terjaga dan merata. Harga pertamax di SPBU Pertamina tetap yakni Rp12.300. Sementara SPBU swasta untuk BBM yang setara dihargai Rp12.390.
Kenaikan wajar, imbas krisis global
Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Muhammad Mufti Mubarok menilai kenaikan harga BBM yang diterapkan masih dalam taraf wajar. Menurutnya ini adalah konsekuensi dari mekanisme pasar global.
"Ini tidak bisa dihindari, terutama akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia naik," kata Mufti dalam keterangannya, Senin (20/4).
Mufti mengatakan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi merupakan langkah realistis di tengah tekanan global yang semakin kuat.
Apalagi hampir semua negara melakukan hal yang sama.
"Jadi ini bukan semata kebijakan domestik, tapi bagian dari dinamika energi dunia," katanya.
Apalagi kenaikan dilakukan setelah pertimbangan matang.
Ia berharap konsumen pengguna pertamax turbo dan pertamina dex atau dexlite tidak berpindah ke pertamax atau ke solar bersubsidi. Jika ini terjadi apalagi massif tentu akan berpengaruh ke pasokan. Jika pindah ke BBM subsidi ini tentu berpengaruh ke beban subsidi negara.
"Kebijakan ini penting agar konsumen kelas atas tetap menggunakan BBM sesuai spesifikasinya. Jangan sampai terjadi migrasi ke pertamax atau bahkan pertalite, karena itu bisa membebani subsidi," katanya.
Mufti menekankan pentingnya pengawasan di lapangan untuk mencegah penggunaan BBM bersubsidi bagi mereka yang tak berhak.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi. Menurutnya kenaikan harga BBM sekarang adalah hal rasional.
"Apalagi untuk kategori non subsidi," kata Tulus, Senin (20/4).
Ia mengingatkan harga BBM non subsidi selama ini fluktuatif karena berdasarkan harga minyak mentah dunia, kurs mata uang dan inflasi.
"Lebih dari 100 negara juga telah mereview harga BBM-nya, bahkan lebih dari 100 persen," ujar Tulus.
Ia berharap dengan naiknya harga pertamax turbo tidak ada perpindahan pengguna ke pertamax atau pertalite. Jika perpindahan ke pertamax tentu harus ditambah pasokannya.
Namun Tulus mengingatkan tidak ada yang pindah ke pertalite karena ini berarti ada pelanggaran karena pertalite adalah BBM bersubsidi.
"Itu pelanggaran regulasi dan moral" katanya.
Karena itu Tulus menekankan pentingnya pengawasan.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda berakhirnya krisis di Timur Tengah. Sempat ada gencatan senjata namun berakhir buntu. Belakangan AS malah memblokade akses Selat Hormuz yang dibalas Iran dengan kembali menutup selat itu.
Mengingat gejolak di Timteng belum mereda, Tulus berharap masyarakat harus berhemat dalam penggunaan BBM. Misalnya dengan menggunakan kendaraan umum masal atau bekerja secara WFH seperti anjuran pemerintah.
Lihat Juga : |
Tak berdampak ke masyarakat bawah
Mufti menilai penyesuaian harga ini tidak akan berdampak langsung ke masyarakat menengah ke bawah. Pasalnya karena pertalite dan solar yang disubsidi harganya tetap.
"Selama Pertalite dan BBM subsidi tidak naik, masyarakat bawah relatif masih terlindungi. Ini yang membuat situasi tetap kondusif dan tidak menimbulkan kepanikan," katanya.
Namun Mufti mengingatkan agar dampak lain bisa diantisipasi pemerintah yakni kenaikan biaya logistik dan distribusi. Hal ini menurutnya bisa berimbas ke kenaikan harga kebutuhan pokok.
Tulus juga mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi tidak berdampak terhadap ekonomi makro. Menurutnya pengguna BBM pertamax turbo, pertamina dex dan dexlite dari sisi volume penggunanya tak sebesar pengguna pertamax atau BBM bersubsidi.
"Dampak akan terjadi jika kenaikan harga terjadi pada harga BBM subsidi." ujar Tulus.
Alasan kenaikan harga
Sebelumnya Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan mengapa pertamax turbo, dexlite, dan pertamina dex harus disesuaikan harganya.
Menurutnya Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi lantaran mengikuti harga pasar pasar. Berdasarkan aturan, pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar.
"Kalau BBM itu kan untuk yang pemerintah atur adalah BBM bersubsidi. Sementara untuk yang non subsidi, sesuai Peraturan Menteri ESDM Tahun 2022, itu mengikuti harga pasar," kata Bahlil di lokasi retret Ketua DPRD seluruh Indonesia di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Sabtu (18/4).
Bahlil mengatakan kenaikan harga BBM tersebut juga hanya berdampak pada masyarakat mampu. Sebab, jenis BBM nonsubsidi yang naik umumnya dikonsumsi kalangan atas.
"(Pertamax) Turbo itu kan buat orang kaya, orang-orang mampu semua, RON 98. Kemudian solar yang CN 51 (Dexlite) itu kan untuk orang mampu," imbuhnya.
Pertamina memastikan setiap keputusan terkait harga BBM nonsubsidi akan dilakukan secara hati-hati, juga mempertimbangkan kondisi ekonomi serta daya beli masyarakat.
Tindak tegas penyelewengan
Selama periode 7 April hingga 20 April 2026, Polri telah menangkap 330 tersangka kasus penyelewengan BBM dan gas LPG bersubsidi.
Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mohammad Irhamni mengatakan selama 13 hari operasi, petugas menggerebek 223 lokasi berbagai wilayah dari mulai Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Maluku dan Papua Barat.
Para tersangka menggunakan berbagai modus dalam melancarkan aksinya seperti membeli bahan bakar solar berulangkali lalu ditimbun di tempat tertentu untuk selanjutnya dijual dengan harga lebih tinggi.
Para tersangka juga menggunakan truk yang sudah dimodifikasi agar muatannya bisa lebih banyak. Setelah itu, mobil tersebut ditempatkan di suatu tempat agar BBM itu dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.
Irhamni mengatakan bahkan ada beberapa pihak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) ada yang bekerja sama dengan tersangka.
Sedangkan untuk penyelewengan tabung LPG, kata Irhami, para tersangka memindahkan isi tabung LPG tiga kilogram ke tabung LPG 12 kg dan 50 kg dan dijual dengan harga non subsidi.
"Tindak pidana penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp243.069.600.800," kata Irhamni.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal Dugaan Penyalahgunaan Niaga BBM atau LPG Subsidi dengan ancaman hukuman paling lama enam tahun kurungan penjara.
(del/sur)