Purbaya Akui 30 Persen Subsidi BBM Dinikmati Orang Kaya

CNN Indonesia
Rabu, 22 Apr 2026 06:45 WIB
Purbaya menjelaskan kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya, khususnya desil 8, 9, dan 10 telah menikmati berbagai bentuk subsidi pemerintah.
Purbaya menjelaskan kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya, khususnya desil 8, 9, dan 10 telah menikmati berbagai bentuk subsidi pemerintah. (FOTO:CNN Indonesia/Budi Tanjung).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk orang kaya hampir mencapai 30 persen. Selain itu, ke depan ia tidak berencana mengguyur stimulus meski harga BBM nonsubsidi naik.

Menurut dia, pengguna BBM nonsubsidi umumnya berasal dari kelompok masyarakat mampu.

"Yang (BBM) non (subsidi) kenapa dikasih subsidi lagi? stimulus lagi? Itu orang mampu ya biar saja," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya menjelaskan kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya, khususnya desil 8, 9, dan 10 telah menikmati berbagai bentuk subsidi pemerintah. Oleh karena itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai tidak perlu direspons dengan stimulus tambahan.

Sebagai informasi, menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil 8, 9, 10 merujuk pada kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan ekonomi menengah ke atas hingga kaya. 

Purbaya menjelaskan porsi subsidi yang dinikmati kelompok masyarakat mampu sudah cukup besar.

[Gambas:Youtube]

"Mungkin desil 8, 9, 10 itu menikmati berapa persennya? Saya lupa persennya, tapi cukup besar hampir 30 persen subsidi yang kita kasih. Jadi kalau yang mampu itu harus bayar sedikit ya gak apa-apa," ujar Purbaya.

Hal senada pernah disampaikan Menkeu sebelumya, yakni Sri Mulyani dengan yang menyebutkan BBM bersubsidi banyak dinikmati oleh orang kaya. Padahal saat itu pemerintah mengeluarkan anggaran subsidi energi hingga Rp502,4 triliun. Adapun tujuan subsidi untuk membantu masyarakat miskin atau tak mampu, tapi faktanya kelompok tersebut hanya menikmati sedikit.

"Jadi uang ratusan triliun ini yang banyak menikmati kelompok menengah atas. Yang paling miskin justru mendapatkan kecil," ujarnya dalam konferensi pers, Agustus 2022 lalu.

Per 18 April, PT Pertamina (Persero) menaikkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi. Pertamax turbo dibanderol Rp19.400 per liter, naik dari Rp13.100 per liter.

Untuk dextlite, harga dibanderol Rp23.600 per liter, naik dari Maret atau sebelum kenaikan dilakukan yang di Rp14.200 per liter.

Kenaikan juga terjadi pada Pertamina Dex. Per 18 April harga BBM jenis tersebut dibanderol di Rp23.900 atau naik dibanding Maret yang hanya Rp14.500.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah memberi sinyal harga Pertamax juga akan disesuaikan. Kepastiannya mengikuti harga minyak dunia.

Menurut Bahlil, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga pasar minyak dunia. Artinya, jika ada kenaikan dan penurunan minyak global, maka dalam negeri akan mengikuti.

"Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus (naik), ya mungkin (Pertamax) pasti ada penyesuaian," ujarnya ditemui di kantornya, Senin (20/4).

Bahlil menekankan beberapa harga BBM nonsubsidi sudah naik karena mengikuti harga minyak global. Pasalnya, dalam APBN ditetapkan harga ICP dilevel US$70 per barel, sedangkan harga minyak masih di atas US$90 per barel.

"Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian," terangnya

Namun, Bahlil menekankan untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan ada kenaikan meski harga minyak dunia tak menentu. Sedangkan, untuk BBM nonsubsidi diserahkan ke badan usaha untuk mengatur harganya.

"Pemerintah bisa menjamin itu kan adalah harga subsidi dan itu kan peraturan Menteri ESDM 2022 kan sudah jelas itu ada formulasinya," pungkasnya.

(dhz/ins) Add as a preferred
source on Google