Diliputi Ketidakpastian, BI Rate Tetap 4,75 Persen per April 2026
Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode 21-22 April 2026.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
"RDG BI pada 21 dan 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5 persen," ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (22/4).
Ia menegaskan kebijakan ini konsisten dengan upaya memperkuat stabilisasi rupiah, terutama di tengah tekanan eksternal akibat konflik geopolitik global.
"Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global," imbuhnya.
Perry menjelaskan kondisi global saat ini masih diliputi ketidakpastian, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga komoditas dan memperdalam disrupsi rantai pasok.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 melambat menjadi 3 persen, dari proyeksi sebelumnya 3,1 persen. Sementara inflasi global diprediksi meningkat menjadi 4,2 persen.
Di sisi lain, tekanan pasar keuangan global juga meningkat seiring pergeseran aliran modal ke aset lindung nilai (safe haven), yang turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Perry memastikan kondisi ekonomi domestik tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026, didorong oleh permintaan domestik.
Inflasi juga tetap terkendali. Pada Maret 2026, inflasi indeks harga konsumen tercatat sebesar 3,48 persen secara tahunan, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,76 persen.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen," ujarnya.
Selain itu, BI juga mencatat nilai tukar rupiah relatif stabil. Per 21 April 2026, rupiah berada di level Rp17.140 per dolar AS, atau melemah 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.
Ke depan, Bank Sentral tetap optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat, ditopang imbal hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid.
(lau/ins)