Pangkas Makelar, Kopdes Merah Putih Diproyeksi Raup Cuan Rp50 T

CNN Indonesia
Jumat, 24 Apr 2026 07:50 WIB
Amran prediksi Kopdes mampu menghasilkan margin Rp50 triliun hanya dengan memangkas rantai pasok yang selama ini panjang dan didominasi perantara. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia).
Karawang, CNN Indonesia --

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memproyeksikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) mampu menghasilkan margin alias keuntungan hingga Rp50 triliun, dengan memangkas rantai pasok yang selama ini panjang dan didominasi perantara.

"Supply chain (rantai pasokan) tadi, solusinya adalah ini. Kita perkecil menjadi tiga (rantai distribusi). Ini kehilangan, kita Rp313 triliun (potensi margin di rantai pasok). Di middleman ini, untungnya bisa 10 persen, 20 persen, 30 persen (di setiap tahap distribusi)," ujar Amran dalam diskusi bersama pengamat di Kawasan Pergudangan Genesis, Karawang, Kamis (23/4).

Ia menjelaskan struktur distribusi pangan saat ini melibatkan banyak lapisan, mulai dari pedagang pengumpul, distributor, subdistributor, hingga ritel sebelum sampai ke konsumen. Kondisi ini membuat margin keuntungan menumpuk di tingkat perantara.

Berdasarkan paparannya, potensi keuntungan yang selama ini dinikmati para perantara atau middleman mencapai sekitar Rp313,08 triliun. Melalui skema Kopdes Merah Putih, rantai pasok dipangkas menjadi lebih sederhana, yakni dari petani langsung ke koperasi di desa, lalu ke konsumen akhir.

"Inilah dibangun Koperasi (Desa) Merah Putih. Dari petani, koperasi langsung di desa ke konsumen. Kalau ini untung koperasi Rp50 triliun, ini Rp263 triliun dibagi ke petani, pendapatan naik, daya beli naik," ujar Amran.

Dengan skema tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tukar petani (NTP) serta perbaikan daya beli masyarakat desa karena distribusi keuntungan menjadi lebih merata.

Selain itu, Amran juga menyinggung peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai penyerap hasil produksi petani atau off taker. Menurutnya, keberadaan MBG akan membantu menjaga stabilitas permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan produksi yang berujung pada pemborosan.

"MBG itu off taker dari 160 juta petani Indonesia. Jadi dia membeli, tidak lagi ada kita dengar tomat dibuang, barang dibuang," ujarnya.

Ia menambahkan integrasi antara koperasi dan program MBG diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi desa yang lebih kuat, di mana hasil produksi terserap dan langsung didistribusikan ke masyarakat sekitar.

Amran juga memperkirakan perputaran ekonomi di desa dapat meningkat signifikan jika sistem ini berjalan optimal. Aktivitas ekonomi yang sebelumnya terpusat di kota diharapkan dapat bergeser dan tumbuh di tingkat desa.

"Kalau kita sepakat 30 kali bergerak di desa (perputaran ekonomi), Rp300 triliun kali 10 (dikalikan frekuensi transaksi), Rp10 ribu triliun (potensi perputaran ekonomi). Ini bergerak di desa, tidak lari ke kota," katanya.

(del/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK