AS Tuding Asia Mainkan Kurs, Airlangga Tegaskan RI Tak Masuk Daftar

CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 05:45 WIB
Airlangga menegaskan Indonesia tidak termasuk negara Asia yang dituding Amerika Serikat (AS) sengaja melemahkan mata uang untuk mendongkrak daya saing.
Airlangga menegaskan Indonesia tidak termasuk negara Asia yang dituding Amerika Serikat (AS) sengaja melemahkan mata uang untuk mendongkrak daya saing. (FOTO:CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia tidak termasuk negara Asia yang dituding Amerika Serikat (AS) sengaja melemahkan mata uang untuk mendongkrak daya saing.

"Amerika merasa bahwa beberapa negara di Asia itu melakukan currency manipulation untuk memperkuat daya saing, sengaja memperlemah currency-nya. Indonesia tidak termasuk dalam negara tersebut. Jadi ini yang terus kita jaga," ujar Airlangga dalam acara Roundtable Menakar Denyut Ekonomi di Tengah Gejolak Global, Jakarta Selatan, Selasa (28/4)

Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat merespons pelemahan rupiah dan bahkan sempat menyentuh level terendah beberapa waktu terakhir. Rupiah diketahui sempat anjlok ke level Rp17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4), level terlemah sepanjang sejarah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kondisi tersebut, Airlangga mengatakan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) tetap memantau ketat pergerakan rupiah dan menjaga stabilitas makroprudensial. Namun pemerintah, kata dia, tidak akan mengambil langkah yang bertentangan secara frontal dengan tekanan pasar global.

"Pemerintah tetap menjaga makro prudensialnya bersama dengan BI memonitor rupiah. Namun tentu kita tidak against the flow ya. Kalau flow-nya, anginnya headwind tentu kita tidak untuk menabrak, tapi dengan berbagai kebijakan," katanya.

Ia menilai pelemahan mata uang saat ini bukan hanya dialami Indonesia. Yen Jepang dan sejumlah mata uang Asia lainnya juga ikut mengalami tekanan akibat sentimen global yang sama.

[Gambas:Youtube]

Karena itu, Airlangga menekankan pelemahan rupiah bukanlah hasil kebijakan pemerintah yang sengaja membiarkan kurs melemah demi ekspor, melainkan lebih dipengaruhi tekanan eksternal.

Selain isu kurs, Airlangga juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang belakangan ikut memperburuk sentimen terhadap ekonomi domestik. Meski begitu, ia menilai lonjakan harga minyak masih berada dalam rentang yang dapat dikelola APBN.

"Harga minyak ini dijaga semacam yoyo, US$100 (per barel) lebih dikit turun lagi, US$100, turun lagi. Nah, bagi Indonesia yang di APBN kita (dipatok) angkanya US$70, dalam tiga bulan kemarin kira-kira US$77. Jadi masih relatif within the range," ujarnya.

Menurut dia, selama harga minyak belum melesat jauh di atas US$100 per barel, pemerintah masih bisa menjaga beban subsidi energi, terutama untuk Pertalite dan biodiesel.

Airlangga menambahkan program konversi Biodiesel 50 (B50) yang akan dijalankan pada semester II tahun ini justru diperkirakan membantu mengurangi subsidi karena selisih harga antara minyak sawit dan BBM fosil makin menyempit saat harga minyak global naik.

"Nah, saving daripada tidak menggunakan solar tetapi menggunakan Biodiesel B50 itu sampai sekitar Rp48 triliun," katanya.

(del/ins) Add as a preferred
source on Google