Perang Iran Picu Harga Pupuk Melonjak, Petani Jerman Menjerit

CNN Indonesia
Minggu, 03 Mei 2026 18:35 WIB
Produsen pupuk dan petani Jerman tertekan akibat perang Iran yang memicu lonjakan harga energi dan gangguan pasokan, mengancam ketahanan pangan global.
Ilustrasi. Produsen pupuk dan petani Jerman tertekan akibat perang Iran yang memicu lonjakan harga energi dan gangguan pasokan, mengancam ketahanan pangan global. (Foto: iStockphoto/Singkham)
Jakarta, CNN Indonesia --

Produsen pupuk dan petani di Jerman menghadapi tekanan berat akibat dampak perang Iran yang memicu lonjakan harga energi serta gangguan pasokan global.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang rantai pasok pupuk dunia. Jalur tersebut selama ini dilalui sekitar sepertiga distribusi pupuk global, sehingga gangguan yang terjadi memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pangan, terutama di Afrika dan Asia Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa jalur laut masih bisa runtuh seperti dulu," kata juru bicara perusahaan pupuk SKW, Christopher Profitlich, melansir AFP, Minggu (3/5).

SKW, produsen urea terbesar di Jerman, kini mengoperasikan pabriknya secara penuh untuk menutup kekurangan pasokan global. Perusahaan yang berbasis di Wittenberg itu memperkirakan pendapatan dapat meningkat 10 hingga 20 persen tahun ini, meski tetap dibayangi ketidakpastian pasar.

Namun, lonjakan biaya energi menjadi tantangan utama. Sekitar 80 persen produksi SKW bergantung pada gas, yang harganya telah melonjak dua kali lipat sejak konflik pecah pada akhir Februari.

CEO SKW Carsten Franzke menegaskan perusahaannya bukan mengambil keuntungan dari situasi perang.

"Kami bukan pihak yang mengambil keuntungan dari perang. Kemungkinan kami hanya akan mencapai titik impas karena biaya energi yang sangat tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan biaya produksi memang dapat diteruskan ke konsumen. Namun, beban tersebut sulit ditanggung oleh petani sebagai pengguna akhir.

"Masalahnya, pelanggan kami yaitu petani, belum tentu bisa meneruskan biaya itu," kata Franzke.

Di sisi lain, petani Jerman mulai merasakan dampak langsung dari krisis tersebut. Salah satunya Gerhard Geywitz, petani di Baden-Wuerttemberg, yang mengaku harga pupuk telah melonjak hingga 50 persen sejak perang dimulai.

Ia menyebut harga komoditas pertanian global yang relatif stagnan membuatnya harus menanggung kenaikan biaya sendiri.

"Jika perang berlanjut, saya khawatir akan terjadi kelangkaan pupuk tahun depan," ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia memilih menimbun stok pupuk sebelum harga melonjak lebih tinggi.

"Asosiasi Produsen Pupuk Jerman (BVDM) juga memperingatkan bahwa ketergantungan pada pasar global dapat menjadi risiko besar bagi ketahanan pangan Eropa," demikian pernyataan BVDM.

"Tanpa produsen lokal dan pertanian yang kompetitif, ketahanan pangan di Eropa akan terancam serius," lanjutnya.

Krisis ini turut menghidupkan kembali kekhawatiran terkait daya saing industri Eropa yang dinilai kalah dibandingkan negara lain, terutama dalam hal biaya energi dan standar lingkungan.

Sejumlah pelaku industri pun mendesak Uni Eropa untuk meninjau ulang kebijakan perdagangan karbon guna meringankan beban sektor industri. Komisi Eropa menyatakan tengah mengkaji isu tersebut.

(lau/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]