Purbaya Sentil Pengamat soal Hiperinflasi: Masih Jauh!
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan risiko hiperinflasi di Indonesia masih jauh, sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah pengamat terkait lonjakan harga.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5).
Ia memastikan pemerintah akan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil tanpa memicu kondisi overheating atau 'kepanasan' yang berpotensi mendorong inflasi tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini hal yang bagus, pemerintah akan menjaga, kita pastikan terus terkendali. Jadi ekonomi kita enggak kepanasan. Pengamat-pengamat itu harus belajar lagi," ujar Purbaya.
Menurutnya, pemerintah bersama bank sentral akan terus menjaga likuiditas dan stabilitas sistem keuangan agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Purbaya juga meyakini penyaluran kredit akan meningkat secara bertahap, sehingga dapat memperkuat peran sektor swasta dalam menopang perekonomian.
"Ini yang saya bilang dulu, saya ingin menjalankan mesin private (swasta) dan mesin pemerintah," ujarnya.
Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026 menjadi fondasi kuat untuk mendorong pertumbuhan ke level yang lebih tinggi secara bertahap.
Di sisi lain, Purbaya menepis kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang dinilai berlebihan. Ia menyebut inflasi Indonesia pada April 2026 justru masih terkendali di kisaran 2,4 persen.
"Ada yang bilang menuju hiperinflasi, bisa 4-5 persen, nakut-nakutin. Ternyata inflasinya pada April ini 2,4 persen," tegasnya.
Ia bahkan menyebut angka tersebut sebagai kondisi yang ideal dan menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga.
"Ini (2,4 persen) angka yang sempurna. Kita pastikan inflasi akan terkendali terus. Jadi ekonomi kita tidak kepanasan, hiperinflasi masih jauh. Pengamat-pengamat itu mesti belajar," ujar Purbaya.
Dengan kondisi tersebut, ia memastikan pemerintah akan terus hadir menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus kenaikan harga, sekaligus memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju inflasi tahunan memang mengalami penurunan pada April 2026. Inflasi tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan meredanya inflasi seiring berakhirnya dampak low base effect tarif listrik yang sempat mendorong kenaikan harga pada awal tahun.
"Inflasi tahunan pada April 2026 mereda ke angka 2,42 persen. Pada bulan ini sudah tidak ada lagi dampak low base effect tarif listrik. Inflasi lebih didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (4/5) lalu.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,90 persen dan tingkat inflasi 3,06 persen.
Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 11,43 persen, terutama dipicu lonjakan harga emas perhiasan.
Secara keseluruhan, seluruh komponen pengeluaran mengalami inflasi secara tahunan, meski dalam tren yang lebih terkendali dibandingkan awal tahun.
(lau/sfr) Add
as a preferred source on Google