Tak Hanya Faktor Lebaran, Apa Rahasia Ekonomi RI Melesat 5,61 Persen?

Lidya Julita Sembiring | CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 07:57 WIB
Analis menilai capaian pertumbuhan ekonomi tinggi menempatkan Indonesia jadi salah satu titik terang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis menilai capaian pertumbuhan ekonomi tinggi menempatkan Indonesia jadi salah satu titik terang di tengah ketidakpastian ekonomi global. (FOTO:CNN Indonesia/Andry Novelino).

Kebijakan ini disebut sebagai upaya pemerintah menjaga momentum ekonomi di tengah tekanan global. Namun, dampaknya bisa sangat serius terhadap kondisi fiskal, seperti pelebaran defisit.

Apalagi, defisit APBN per Maret 2026 tercatat telah mencapai Rp240,1 triliun atau setara dengan 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Strategi front-loading atau percepatan belanja di awal tahun ini merupakan upaya pemerintah untuk memompa ekonomi dari dalam guna meredam dampak ketidakpastian global. Namun, kebijakan ini membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan fiskal," terang Ronny.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara sektoral, Ronny melihat bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menunjukkan ketimpangan yang cukup tajam. Sektor-sektor yang berkaitan dengan mobilitas dan pariwisata tumbuh dua digit, sementara sektor manufaktur yang merupakan tulang punggung ekonomi jangka panjang terus menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

"Kami harus menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I-2026 adalah sebuah pertumbuhan yang berkualitas rendah dan berisiko tinggi. Pertumbuhan ini ditopang oleh fondasi yang tidak kokoh: konsumsi musiman yang tidak berkelanjutan dan belanja pemerintah yang agresif namun membebani ruang fiskal," tegasnya.

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin juga menilai konsumsi dan belanja pemerintah sebagai motor utama pertumbuhan. Namun, ia menekankan bahwa dorongan konsumsi lebih dipicu faktor musiman.

"Konsumsi lebih karena faktor seasonal, yaitu event Nataru, Imlek dan Lebaran yang terjadi hampir bersamaan," ujarnya.

Ia menilai kondisi ini tidak mencerminkan penguatan daya beli yang berkelanjutan. Wijayanto menambahkan bahwa daya beli masyarakat cenderung kembali melemah setelah periode tersebut berakhir.

"Daya beli kembali melandai pasca lebaran, bahkan tren pelemahan daya beli terus terjadi," katanya.

Hal ini menjadi sinyal bahwa konsumsi belum ditopang oleh peningkatan pendapatan riil. Di sisi lain, lonjakan belanja pemerintah juga dipicu oleh percepatan pengeluaran sejak awal tahun. Salah satu pendorong utama adalah program-program prioritas pemerintah.

"Belanja pemerintah lebih karena spending yang digeber sejak bulan pertama, khususnya untuk MBG," ujar Wijayanto.

Ia menilai strategi ini efektif dalam jangka pendek, namun memiliki keterbatasan. Ke depan, tantangan ekonomi diperkirakan semakin kompleks.

Faktor eksternal seperti konflik global, kenaikan harga energi, dan volatilitas nilai tukar berpotensi menekan pertumbuhan. Ia pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat pada kuartal berikutnya.

"Kuartal 2-4, pertumbuhan akan melambat karena efek seasonal sudah tidak terjadi lagi," ujarnya.

Ia juga menyoroti dampak konflik global terhadap aktivitas ekonomi domestik. Menurutnya, ketidakpastian tersebut dapat membuat pelaku usaha menahan ekspansi.

"Efek perang Iran-AS, kenaikan harga energi, dan volatilitas rupiah akan membuat investor dan dunia usaha mengerem aktivitas atau ekspansi, dan ini akan menekan pertumbuhan ekonomi," pungkasnya.

(ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2