Purbaya Beber Kunci Jaga Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap strategi pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026.
Ia menegaskan kunci utama terletak daya beli masyarakat yang terjaga serta kuatnya belanja pemerintah.
Selain itu, pemerintah juga akan membenahi sistem dunia usaha agar lebih efisien, termasuk memperbaiki teknologi investasi. Di sisi lain, pengawasan terhadap barang impor ilegal juga akan diperketat untuk melindungi pasar domestik.
"Saya akan galakkan lagi penjagaan pasar domestik dari barang-barang ilegal yang katanya ramai lagi sekarang, walaupun Bea Cukai (saat ini) sudah mulai bekerja lebih baik dari sebelumnya," ujar Purbaya ketika ditemui di kawasan Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).
Ia juga menilai program yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil, tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan. Menurut dia, capaian tersebut akan terus dijaga agar ekonomi bisa tumbuh lebih kuat ke depan.
Menanggapi kekhawatiran dari kalangan pengusaha mengenai tekanan yang masih tinggi pada perekonomian Indonesia di kuartal II ini, Purbaya memastikan mereka tidak perlu khawatir.
Ia menilai kekhawatiran pelaku usaha saat ini lebih dipengaruhi narasi negatif yang beredar, termasuk isu Indonesia akan kembali krisis seperti 1998.
"Pebisnis engak usah takut. Kita akan membaik terus ke depan. Perbankan akan kita pastikan uangnya cukup, sehingga dunia usaha bisa dapat hasilnya," ujar Purbaya.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap pemerintah akan meningkatkan belanja pemerintah sebagai strategi menjaga pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.
Pada kuartal I 2026, pendorong utama perekonomian Indonesia masih dari konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 54,36 persen, lalu pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 28,29 persen, dan konsumsi pemerintah 21,81 persen.
"Untuk pertumbuhan di Q2 (kuartal II 2026) memang salah satu yang kita akan genjot adalah belanja pemerintah," ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
Belanja pemerintah yang dimaksud ini adalah pencairan gaji ke-13 untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pengucuran insentif kendaraan listrik.
Mulai Juni 2026, pemerintah berencana memberikan subsidi untuk 200 ribu kendaraan listrik. Untuk awalan, subsidi ini diberi untuk pembelian mobil listrik sebanyak 100 ribu unit dan motor listrik sejumlah 100 ribu unit.
Melalui pencairan gaji ke-13 ASN dan insentif untuk kendaraan listrik, Airlangga percaya pemerintah dapat menjaga daya beli masyarakat.
"Gaji ASN ke-13 itu diharapkan bisa diberikan di bulan Juni jadi salah satu penopang. Kemudian beberapa insentif sedang dipikirkan oleh pemerintah, salah satunya untuk sektor otomotif," ujar Airlangga.
Airlangga belum bisa memproyeksikan berapa pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Namun, ia menegaskan pertumbuhan pada kuartal I 2026 telah melampaui ekspektasi sejumlah lembaga.
(dhz/sfr)