Harga Telur Ayam Anjlok, Peternak Keluhkan Serapan Minim
Harga telur ayam di tingkat peternak dilaporkan anjlok dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut terjadi saat produksi nasional telur ayam tengah melimpah.
Di samping itu, peternak menilai rendahnya serapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut memperparah kejatuhan harga di pasaran.
Presidium PINSAR Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso mengatakan produksi telur nasional saat ini justru berada dalam kondisi surplus. Menurut dia, produksi telur mencapai sekitar 18 ribu ton atau setara 280 juta butir per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya produksi telur ayam disebut tidak diimbangi dengan penyerapan pasar yang memadai.
"Kita sudah swasembada, produksi melimpah, tapi serapannya rendah, ditambah daya beli masyarakat yang sedang jatuh. Akibatnya apa? Harga telur menumpuk, harganya terpuruk hancur lebur," kata Yudianto di Solo, Sabtu (2/5), melansir Detikjateng.
Ia menyebut harga telur di tingkat kandang kini turun dari sekitar Rp26.500 per kilogram (kg) menjadi Rp21 ribu per kg. Angka tersebut diklaim sudah berada di bawah biaya operasional peternak.
Menurut Yudianto, program MBG yang sebelumnya diharapkan menjadi penopang permintaan telur justru belum menyerap produksi secara maksimal.
"MBG yang kami andalkan, MBG yang kami harap-harapkan, ternyata penyerapannya pun terjadi pengurangan. Sehingga saat ini kondisi yang kami alami di lapangan, harga telur langsung anjlok ke titik Rp21 ribu," ujarnya.
Di sisi lain, peternak juga menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama pakan ternak.
"Dan kondisi ini bukan kondisi yang nyaman karena pakan naik dua kali, lebih kurang Rp400, pakan jadi juga Rp400," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Pengurus PINSAR Suwardi. Ia menyoroti kabar mengenai anak sekolah yang disebut bosan mengonsumsi telur dalam program MBG.
Menurut dia, alasan tersebut tidak seharusnya membuat serapan telur menjadi rendah.
"Ada keluhan katanya anak SD kalau diberi telur tiga-empat hari berturut-turut bosan. Ini tidak boleh terjadi. Tujuan program ini kan untuk gizi anak-anak menuju Indonesia Emas, sekaligus menyerap produksi peternak," kata Suwardi.
"Kalau guru-gurunya saja tidak bertanggung jawab membiarkan telur tidak dimakan, ya serapan pasti rendah," lanjutnya.
Ia mengatakan para peternak sebelumnya berharap program MBG bisa menjadi pasar baru bagi produksi telur nasional. Namun realisasi di lapangan disebut belum sesuai harapan.
"Euforia adanya MBG kemarin yang disampaikan semua akan mendukung program ketahanan pangan, yang sudah terjadi adalah kebutuhan telur kita cukup, daya beli rendah, MBG serapannya juga tidak maksimal sehingga kondisi telur menumpuk harganya terpuruk," ujarnya.
Menurut Suwardi, serapan telur untuk program MBG saat ini bahkan disebut baru mencapai sekitar 1 persen.
Para peternak pun mendesak pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur dan menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Mereka meminta pemerintah memperluas penggunaan telur dalam program MBG, termasuk menghidupkan kembali program penanganan stunting untuk membantu menyerap stok telur di pasar.
"MBG yang sudah jalan dimohon untuk bisa dua kali menggunakan telur dalam satu minggu. Yang kedua, program-program yang lain khususnya untuk penanganan stunting agar kami bisa tetap bertahan," kata Suwardi.
Peternak juga berencana mengirim surat kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret di lapangan.
as a preferred source on Google