7 Jurus BI Redam Pelemahan Rupiah yang Sempat Tembus Rp17.400

CNN Indonesia
Jumat, 08 Mei 2026 19:02 WIB
BI melakukan tujuh langkah utama untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah yang sempat turun hingga tembus level terendah di Rp17.400 per dolar AS. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.400 per dolar AS membuat Bank Indonesia (BI) mengeluarkan sederet langkah untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda.

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat.

"Nilai tukar sekarang itu undervalue, dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," kata Perry dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).

Ia mengatakan BI telah melaporkan tujuh langkah utama penguatan rupiah kepada Presiden Prabowo Subianto dan mendapat restu untuk menjalankannya.

Berikut tujuh jurus BI untuk menjaga rupiah:

1. Intervensi besar-besaran di pasar valas

BI akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), baik di pasar domestik maupun luar negeri.

Intervensi dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-Deliverable Forward (NDF) di pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York City.

"Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup," ujar Perry.

2. Menarik modal asing lewat SRBI

BI juga memperkuat daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik arus modal asing masuk ke Indonesia. Langkah ini ditempuh untuk menahan tekanan outflow asing dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

3. Membeli SBN di pasar sekunder

BI bersama pemerintah terus membeli SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar obligasi dan kecukupan likuiditas. Perry menyebut hingga saat ini BI telah membeli SBN senilai Rp123,1 triliun per April 2026.

4. Menjaga likuiditas tetap longgar

Bank sentral memastikan likuiditas rupiah di pasar uang dan perbankan tetap memadai agar tekanan terhadap kurs tidak semakin besar. Menurut Perry, pertumbuhan uang primer saat ini masih tumbuh double digit sebesar 14,1 persen.

5. Memperketat pembelian dolar AS

BI juga memperketat pembelian dolar di pasar domestik. Setelah menurunkan batas pembelian dolar tanpa underlying dari US$100 ribu menjadi US$50 ribu per orang per bulan, BI kini menyiapkan penurunan lanjutan menjadi US$25 ribu.

"Pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25 ribu itu harus pakai underlying," katanya.

Di saat yang sama, BI memperkuat diversifikasi transaksi valas melalui pengembangan pasar yuan-rupiah.

6. Memperbesar intervensi offshore NDF

Selain BI, bank-bank domestik juga akan diberi ruang untuk menjual valas di pasar offshore NDF guna meningkatkan suplai dolar AS.

"Selain intervensi yang terus kami lakukan, kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri," ujar Perry.

7. Memperketat pengawasan pembelian dolar

BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar AS, baik oleh bank maupun korporasi.

Pengawas BI akan diterjunkan langsung untuk memastikan tidak ada lonjakan permintaan valas yang bersifat spekulatif.

"Kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," kata Perry.

(lau/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK