Rupiah Tembus Rp17.600, Masihkah Tepat Investasi Dolar?
5. Hindari Beli All In
Aidil juga mengingatkan investor pemula agar tidak langsung membeli dolar dalam jumlah besar sekaligus di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
Ia menyarankan pembelian dilakukan secara bertahap atau menggunakan metode dollar cost averaging agar risiko kerugian bisa ditekan.
"Jangan langsung beli all in. Dicicil saja supaya kalau tiba-tiba dolar turun, kerugiannya enggak terlalu besar," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6. Investasi Dolar Harus Punya Tujuan Jelas
Sementara itu, Perencana Keuangan OneShildt Consulting Agustina Fitria menilai investasi dolar sebaiknya dilakukan dengan tujuan keuangan yang jelas.
Menurut Fitria, investasi berbasis dolar akan lebih relevan jika memang digunakan untuk kebutuhan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan atau liburan ke luar negeri.
Lihat Juga : |
"Investasi apa pun sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang dan tujuan yang terarah," ujar Fitria kepada CNNIndonesia.com.
Ia juga menilai masyarakat yang memiliki penghasilan dalam dolar tidak perlu terlalu fokus pada naik-turunnya kurs untuk mulai berinvestasi.
"Jika sumber pemasukan dalam dolar, maka juga bisa langsung diinvestasikan dalam dolar tanpa melihat apakah dolar sedang naik atau turun," katanya.
7. Jangan Terlalu Lama Menunggu Kurs Turun
Fitria mengatakan salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu lama menunggu momentum kurs turun.
Akibatnya, dana yang semula disiapkan untuk investasi justru habis untuk kebutuhan konsumtif sehari-hari.
"Yang sering terjadi adalah menunggu momentum dolar turun baru berinvestasi, malah uangnya sudah keburu terpakai untuk konsumsi," ujarnya.
8. Reksa Dana dan Obligasi Bisa Jadi Alternatif
Selain tabungan valas, Fitria mengatakan investor juga bisa mempertimbangkan instrumen lain seperti obligasi dolar dan reksa dana dolar.
Menurutnya, obligasi dolar memiliki keunggulan berupa imbal hasil tetap atau kupon. Namun investor perlu memperhatikan rating penerbit dan risiko jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo.
"Menjual obligasi sebelum jatuh tempo berisiko penurunan harga dan juga kesulitan likuiditas," katanya.
Sementara itu, reksa dana dolar dinilai lebih likuid dan memiliki risiko yang lebih terdiversifikasi dibanding obligasi.
"Keuntungan reksa dana biasanya diperoleh dari kenaikan NAB saat dijual," pungkas Fitria.
(lau/sfr/bac) Add
as a preferred source on Google