Dicecar DPR, Bos BI Beber 7 Langkah Penguatan Rupiah

CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 19:21 WIB
Gubernur Perry Warjiyo mengungkap tujuh langkah yang dilakukan bank sentral untuk penguatan nilai tukar rupiah yang tengah tertekan oleh dolar AS.
Gubernur Perry Warjiyo mengungkap tujuh langkah yang dilakukan bank sentral untuk penguatan nilai tukar rupiah yang tengah tertekan oleh dolar AS. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap tujuh langkah yang dilakukan bank sentral untuk penguatan nilai tukar rupiah yang tengah tertekan oleh dolar AS.

Tujuh langkah itu disampaikan Perry saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5).

Dalam rapat tersebut, Perry dicecar oleh para anggota Komisi XI DPR RI mengenai pelemahan rupiah yang sedang terjadi belakangan ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Per Senin sore ini, kurs rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS setelah melemah 71 poin atau 0,40 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Langkah penguatan pertama, BI meningkatkan intervensi di pasar valas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

"Kami tingkatkan dosis untuk intervensi. Dosisnya kami tingkatkan," kata Perry.

Intervensi valas BI dilakukan dalam jumlah besar di pasar domestik spot (Domestic Non-Deliverable Forward/ DNDF) dan luar negeri (Non-Deliverable Forward/NDF).

Perry mengungkapkan cadangan devisa Indonesia turun sekitar US$10 miliar atau sekitar Rp176,66 triliun akibat intervensi tersebut.

Kendati, sebagian besar intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging agar tidak terlalu menguras devisa.

"Penurunan cadangan devisa yang sekitar US$10 miliar itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini karena yang sebagian besar lebih dari dua per tiga itu adalah untuk secara swap sama hedging," ujar Perry.

Walaupun turun, Perry memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih aman menurut standar Dana Moneter Internasional (IMF).

Kedua, BI menaikkan suku bunga instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kami sudah mulai menaikkan suku bunga instrumen moneter SRBI hampir 100 basis poin," ujar Perry.

Sejak Januari 2025, BI-Rate tetap 4,75 persen, sedangkan SRBI naik menjadi 6,41 persen untuk tenor 12 bulan. Ini agar mampu menarik aliran portofolio asing dan memperkuat stabilisasi Rupiah.

Menurut dia, kebijakan tersebut mulai membuahkan hasil karena arus modal asing yang sebelumnya keluar mulai kembali masuk ke pasar domestik.

"Yang tempo hari banyak outflow, sekarang jadi inflow," ucapnya.

Ketiga, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga likuiditas rupiah.

Menurut data yang dipaparkan Perry, hingga Mei 2026, BI telah membeli SBN sebesar Rp133,39 triliun. Pada 2025, pembelian SBN mencapai Rp332,14 triliun.

Perry mengatakan kebijakan itu dilakukan agar intervensi rupiah tidak menyebabkan kekeringan likuiditas di pasar.

Selain itu, BI juga melakukan operasi moneter dengan menjual SBN jangka pendek dan membeli SBN jangka panjang untuk menjaga stabilitas yield.

"Kami jual yang jangka pendek karena inflownya jangka pendek dan kami beli jangka panjang supaya yield SBN-nya tidak naik terlalu tinggi," ujarnya.

Keempat, BI menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan dengan pertumbuhan uang primer (M0) double digit sesuai koordinasi fiskal-moneter.

Pertumbuhan M0 tercatat naik dari 11,8 persen pada Maret 2026 ke 14,1 persen pada akhir April 2026.

Kelima, BI memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying transaksi.

Ia menjelaskan batas pembelian dolar tanpa underlying yang sebelumnya US$100 ribu telah diturunkan menjadi US$50 ribu sejak April 2026 dan akan kembali diturunkan menjadi US$25 ribu mulai Juni 2026.

Keenam, BI memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), khususnya dengan yuan China.

"Kami sudah ada transaksi rupiah-yuan di dalam negeri yang nyambung dengan Hongkong, dengan China," kata Perry.

BI juga telah menunjuk sejumlah bank domestik untuk menjual instrumen offshore NDF di luar negeri.

Ketujuh, BI memperketat pengawasan terhadap transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar oleh bank maupun korporasi.

"Pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar," ujar Perry.

[Gambas:Video CNN]

(sfr/sfr) Add as a preferred
source on Google