BPS Rilis Indeks Manufaktur Baru, Klaim Lebih Akurat dari PMI BI
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis indikator baru untuk mengukur kondisi dan prospek bisnis manufaktur nasional yang diklaim memiliki tingkat akurasi lebih baik dibanding Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia (BI).
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan indikator baru tersebut diberi nama indeks kondisi dan prospek bisnis manufaktur. Indeks itu disebut memiliki fungsi serupa dengan PMI yang selama ini digunakan untuk membaca aktivitas sektor manufaktur.
"Kami baru saja merilis indikator baru yang kami gunakan untuk melihat bagaimana kondisi dan prospek bisnis manufaktur. Indeks kondisi dan prospek bisnis manufaktur ini nanti mirip dengan PMI," ujar Amalia dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI, Selasa (19/5).
Namun, Amalia menegaskan terdapat perbedaan mendasar antara indeks manufaktur versi BPS dan PMI yang selama ini dirilis Bank Indonesia maupun lembaga lainnya, yakni pada cakupan sampel yang digunakan.
Menurut dia, indeks manufaktur BPS menggunakan lebih dari 8 ribu responden perusahaan, jauh lebih besar dibanding PMI yang hanya menggunakan sekitar 600 sampel.
"Bedanya adalah bahwa kami menggunakan sampel 8 ribu lebih, sementara PMI menggunakan sampel sekitar 600-an. Kami memiliki sampel yang lebih banyak sehingga confidence ataupun akurasi dari indeks ini bisa lebih baik," terangnya.
Pada kuartal I 2026 lalu, PMI BI tercatat berada di level 52,03 persen atau meningkat dari kuartal sebelumnya yang berada di level 51,86 persen. Indeks di atas 50 persen mengindikasikan sektor industri pengolahan berada dalam fase ekspansi.
(lau/sfr)