Dubes India Telepon Mentan Amran Minta Pasokan Pupuk 500 Ribu Ton
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan India meminta impor pupuk urea dari Indonesia hingga 500 ribu ton di tengah gejolak pasokan pupuk global. Permintaan itu disampaikan langsung oleh Duta Besar India kepada pemerintah Indonesia.
Amran mengatakan permintaan pupuk dari luar negeri terus berdatangan setelah Indonesia mulai mengekspor pupuk ke sejumlah negara, termasuk Australia.
"Rencana duta besar India telepon saya langsung meminta 500 ribu ton, nanti kita lihat mana harga paling menguntungkan," kata Amran dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (19/5).
Ia menjelaskan ekspor pupuk RI saat ini sudah berjalan, termasuk ke Australia dengan nilai mencapai Rp7 triliun. Selain India, sejumlah negara lain juga disebut mulai menjajaki impor pupuk dari Indonesia seperti Filipina, Brasil, dan Pakistan.
"Yang pupuk itu kita sudah ekspor kemarin nilainya sudah berjalan Rp7 triliun ke Australia. Menteri pertaniannya langsung telepon saya tiga hari lalu," ujarnya.
Menurut Amran, pemerintah tetap akan memprioritaskan kebutuhan dalam negeri sebelum memutuskan ekspor dalam jumlah besar. Ia memastikan stok pupuk nasional masih surplus sehingga ekspor dinilai tidak akan mengganggu kebutuhan petani domestik.
"Lebih (pasokan dalam negeri), masa kita berani ekspor (kalau kurang). Lebihnya adalah 1,5 juta ton untuk persiapan ekspor nasional, enggak sampai akhir tahun surplus," katanya.
Amran menyebut total produksi pupuk nasional saat ini mencapai sekitar 10 juta ton. Pemerintah, kata dia, tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan petani dalam negeri terlebih dahulu sebelum membuka keran ekspor lebih luas.
"Total kita produksi kurang lebih 10 juta ton, aman kita penuhi dulu dalam negeri baru kita ekspor," ujar Amran.
Ia juga menyinggung kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen di tengah kenaikan harga pupuk global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia.
"Kalau kita ekspor harga setinggi-tingginya, tapi untuk petani Indonesia harga pupuk subsidi turun 20 persen," ucapnya.
Selain pupuk, Amran mengungkapkan sejumlah negara juga mulai menjajaki pembelian beras dari Indonesia. Malaysia disebut telah bertemu langsung dengan pemerintah Indonesia dan kini prosesnya masuk tahap negosiasi harga melalui Perum Bulog.
"Bulog yang tindak lanjuti, harganya kemarin cukup bagus, dia minta kalau tidak salah Rp16.800 (per kilogram)," katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyebut mulai banyak negara meminta membeli beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.
Namun, Prabowo meminta ekspor dilakukan secara hati-hati agar tidak merugikan petani dan kebutuhan dalam negeri tetap aman.
Di sisi lain, ekspor pupuk Indonesia meningkat ketika pasar pupuk global sedang mengalami tekanan akibat konflik Timur Tengah dan terganggunya jalur perdagangan internasional.
Pemerintah mengklaim kondisi stok pupuk nasional tetap stabil karena produksi dalam negeri surplus dan distribusi pupuk subsidi diperbaiki lewat deregulasi rantai pasok.
(del/ins)