Bicara Risiko Ekonomi di Singapura, Luhut Minta Maaf ke Investor
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta maaf kepada investor global di Singapura yang terdampak gejolak pasar dan tekanan ekonomi belakangan ini.
Permintaan maaf itu disampaikan Luhut saat berbicara mengenai volatilitas pasar, tekanan harga minyak dunia, hingga risiko terhadap anggaran negara Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Luhut dalam pertemuan dengan investor global dan perusahaan pengelola aset di Singapura yang kemudian diunggah melalui media sosial pribadinya.
"Saya minta maaf jika beberapa dari Anda mengalami dampak negatif karena situasi tersebut," kata Luhut dikutip dari unggahannya, Kamis (21/5).
Dalam penjelasannya, Luhut mengaku telah mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah mulai mewaspadai tekanan ekonomi setelah Juli 2026, terutama terkait kondisi fiskal dan lonjakan harga minyak dunia.
"Tapi saya juga ingatkan kepada Presiden (Prabowo), kita harus melihat dengan jelas setelah Juli. Fiskal dan budget negara kita akan diperbaiki pada akhir atau awal tahun berikutnya," ujarnya.
Luhut mengatakan pemerintah juga telah menyiapkan simulasi apabila harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel. Menurut dia, kondisi itu berpotensi memberi tekanan besar terhadap APBN karena asumsi harga minyak dalam anggaran negara masih berada di level US$70 per barel.
"Karena budget negara kita hanya US$70 dolar. Jadi, defisitnya sekitar Rp200 triliun," kata Luhut.
Ia menyebut pemerintah kini tengah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk meredam dampak lonjakan harga minyak terhadap lekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan ini? Sesuatu seperti itu. Jadi, kita cukup detail untuk melihat masalah ini," ujarnya.
Meski mengakui adanya sejumlah tekanan ekonomi, Luhut menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding sejumlah negara lain. Ia menyebut inflasi domestik masih terkendali di level 2,4 persen dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen.
"Ekonomi kita seharusnya masih sangat kuat dibanding beberapa negara lain, tidak mengingat kita memiliki beberapa masalah di sini dan di sana," kata dia.
Namun demikian, Luhut meminta maaf kepada investor yang mengalami kerugian akibat kondisi pasar saat ini.
"Dan saya minta maaf juga, mungkin beberapa dari Anda memiliki dampak negatif karena situasi ini," tuturnya.
Luhut menambahkan pemerintah juga tengah menyiapkan stimulus ekonomi guna menjaga momentum pertumbuhan apabila tekanan global terus berlanjut.
"Kita juga harus mempersiapkan stimulus untuk menjaga ekonomi kita," ujarnya.
Selain itu, ia mengungkapkan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mendorong penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengawasan pasar modal.
Menurut Luhut, langkah itu dilakukan agar aktivitas di pasar modal menjadi lebih transparan dan meminimalkan praktik manipulasi.
"Kita bertemu kemarin dengan OJK, dan saya mendorong OJK untuk menggunakan AI untuk membuat lebih jelas antara pasar kapital," kata Luhut.
Ia mengatakan Presiden Prabowo juga mendukung penggunaan teknologi GovTech berbasis AI untuk memperkuat tata kelola pemerintahan dan pengawasan ekonomi nasional.
(del/ins)