Sultan Wanti-wanti Soal Pinjol Tembus Rp101 T: Fenomena 'Makan Utang'
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan berbasis nilai budaya dalam pembukaan Jogja Financial Festival 2026 di Johgja , Kamis (22/5).
Dalam sambutannya, Sultan menekankan bahwa akses keuangan harus mampu memberdayakan masyarakat, bukan justru mendorong perilaku konsumtif dan ketergantungan utang.
Menurut Sultan, perkembangan teknologi finansial dan kemudahan akses layanan keuangan perlu diimbangi dengan kesadaran moral dalam mengelola uang.
"Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah akses itu membuat manusia semakin berdaya, atau justru semakin mudah diarahkan oleh hasrat konsumsi, algoritma, dan utang yang datang dengan wajah kemudahan?" ujar Sultan.
Sultan menilai falsafah Jawa 'Gemi, Nastiti, Ngati-ati' relevan menjadi fondasi literasi keuangan modern. Nilai 'Gemi' dimaknai sebagai kemampuan menahan konsumsi demi tujuan jangka panjang, terutama di tengah maraknya budaya konsumsi impulsif dan skema 'beli-sekarang-bayar-nanti'.
"Kebebasan finansial bukan soal kemampuan membeli, melainkan kemampuan menahan," katanya.
Sementara itu, 'Nastiti' diartikan sebagai kecermatan dalam mengambil keputusan finansial. Sultan mengutip data SNLIK 2025 OJK-BPS yang menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 66,46 persen, masih tertinggal dibanding tingkat inklusi keuangan 80,51 persen.
Menurutnya, kesenjangan tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum memahami risikonya secara utuh.
Adapun nilai 'Ngati-ati', lanjut Sultan, menjadi semakin penting di tengah tingginya penggunaan pinjaman online. Ia menyebut outstanding pinjaman online nasional per Maret 2026 mencapai Rp101,03 triliun dengan lebih dari 26 juta peminjam aktif.
"Fenomena 'makan utang' membuktikan, bahwa kemudahan akses tanpa literasi justru mempercepat kesulitan," ungkapnya.
Pemerintah DIY, kata Sultan, terus mendorong berbagai program penguatan literasi dan inklusi keuangan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah, reformasi kalurahan, penguatan ekosistem anti rentenir dan pinjol predator, hingga pengembangan SiBakul Jogja yang terhubung dengan pembiayaan formal. Ia menegaskan, yang dibangun bukan hanya transaksi ekonomi, melainkan ekosistem pemberdayaan masyarakat.
Jogja Financial Festival 2026 digelar pada 22-23 Mei 2026 di Jogja Expo Center, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
(kum/asa)