Siasat Mengatur Keuangan saat Biaya Hidup Terus Mencekik, Gaji Ngepas!
Selain formula 50/30/20, Andi juga menawarkan beberapa alternatif budgeting yang dinilai lebih fleksibel untuk kondisi saat ini.
Salah satunya pembagian 55 persen untuk kebutuhan sehari-hari dan cicilan, 10 persen tabungan atau investasi, 10 persen pengembangan diri, 10 persen hiburan, 10 persen dana darurat, dan 5 persen dana amal.
Ada pula metode 10/20/30/40 yang membagi pengeluaran menjadi 10 persen dana amal, 20 persen tabungan, 30 persen kewajiban, dan 40 persen kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsep manapun yang dipilih, sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi kita, dan disiplin dalam menjalankannya," kata Andi.
Lihat Juga : |
Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan Mike Rini Sutikno. Menurut dia, metode 50/30/20 masih relevan, tetapi lebih tepat diposisikan sebagai framework dasar, bukan aturan wajib yang harus diterapkan sama oleh semua orang.
"Yang penting bukan angkanya yang tepat atau harus exactly 50/30/20, tapi prinsip dasarnya yaitu memisahkan kebutuhan, keinginan, dan tabungan," kata Mike.
Ia menjelaskan metode tersebut pertama kali dipopulerkan Senator Amerika Serikat Elizabeth Warren pada 2005. Namun, kondisi ekonomi saat ini sudah jauh berubah karena dipengaruhi inflasi, kenaikan biaya hidup, hingga tekanan suku bunga.
Mike mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan masyarakat bukan langsung memangkas pos tertentu, melainkan melakukan audit pengeluaran lebih dulu.
Semua pengeluaran perlu dipetakan mana yang benar-benar kebutuhan primer dan mana yang sebenarnya sekadar gaya hidup.
Lihat Juga : |
Ia mencontohkan makan merupakan kebutuhan, tetapi frekuensi makan di restoran adalah pilihan. Begitu pula tagihan listrik yang memang kebutuhan, tetapi penggunaan AC berlebihan masih bisa dioptimalkan agar pengeluaran lebih efisien.
"Kalau kita mau melakukan penghematan, kita perlu tahu dulu mana yang sebenarnya kebutuhan dan mana yang keinginan," ujarnya.
Mike juga menilai pendekatan berbasis persentase sering kali tidak cukup untuk target finansial tertentu. Karena itu, ia menyarankan masyarakat menggunakan metode goal-based budgeting atau budgeting berdasarkan tujuan keuangan.
Dalam metode tersebut, seseorang menentukan lebih dulu target yang ingin dicapai, misalnya membeli rumah dalam jangka waktu tertentu. Setelah target dan waktunya ditetapkan, baru dihitung kebutuhan tabungan per bulan untuk mencapainya.
"Kalau 20 persen enggak cukup berarti perlu ditambah. Jadi pendekatannya jangan persentase, tetapi berdasarkan tujuan keuangan," katanya.
Menurut Mike, masyarakat dengan penghasilan rendah juga perlu memakai pendekatan berbeda.
Jika sebagian besar pendapatan sudah habis untuk kebutuhan dasar, fokus utama sebaiknya diarahkan pada upaya meningkatkan pendapatan, misalnya lewat pelatihan keterampilan tambahan atau usaha sampingan.
Meski begitu, ia menilai kebiasaan menabung tetap perlu dibangun meski nominalnya kecil dan dilakukan bertahap sesuai kemampuan.
"Daripada target 20 persen, mulai dengan yang lebih realistis. Contoh nabung Rp50 ribu per bulan, kalau enggak sanggup ya Rp20 ribu. Intinya membangun kebiasaannya dulu," ujarnya.
Selain goal-based budgeting, Mike menyebut metode budgeting kini jauh lebih beragam. Ada zero-based budgeting yang mengalokasikan setiap rupiah secara detail sejak awal bulan, hingga metode amplop digital lewat aplikasi perbankan.
Menurut dia, tidak ada formula budgeting yang benar-benar universal karena kondisi keuangan dan psikologis tiap orang berbeda-beda.
"Metode budgeting mau 50/30/20, 30/30/10, atau bahkan 50/50, prinsip dasarnya sebenarnya membantu orang untuk menjadi lebih mindful spending," katanya.
(ins) Add
as a preferred source on Google