CT Beri Wejangan ke Pengusaha Mochi soal Strategi Merekrut Karyawan
Chairman CT Corp Chairul Tanjung alias CT memberikan wejangan kepada peserta yang mayoritas anak muda mengenai tips-tips membangun karir sebagai entrepreneur.
Wejangan CT mulai dari jeli melihat peluang, bangkit dari kegagalan, menjalin relasi di usia belia, hingga memanfaatkan media sosial. Semua itu ia paparkan saat mengisi salah satu Educational Class dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di JEC, Bantul, DIY, Sabtu (23/5).
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta bernama Prayitno, seorang pria paruh baya mengaku dirinya sebagai mantan guru. Dia punya kantor jasa akuntan dan usaha produksi mochi kacang, yakni 'Dapur Mochi'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bilang bisnis keluarga itu cukup banyak pesanan setelah berhasil mengoptimalkan TikTok dan Instagram. Kepada CT, Prayitno pun bertanya bagaimana caranya ia bisa punya karyawan.
Lihat Juga :Jogja Financial Festival 2026 Bos Danantara Sebut BUMN PT INTI Segera Ditutup |
"Ada beberapa yang sudah pengin (daftar jadi karyawan), pak saya pengin daftar karyawan. Tapi saya hitung-hitung, cash flow-nya kok nampaknya belum belum bisa (untuk membayar gaji pegawai)," tanya Prayitno.
Menanggapi pertanyaan itu, CT pun mengajak kilas balik ke perjalanan kariernya. Dia bercerita memulai usaha informal seperti Prayitno, tidak memiliki badan usaha macam PT maupun CV.
"Kalau namanya usaha sendiri enggak punya PT, enggak punya CV, semuanya kerjakan sendiri. Kita jadi pemilik, kita jadi bos, kita juga jadi karyawan satu-satunya. Itu pengusaha informal," ujar CT.
CT menjelaskan tahap berikutnya adalah menjadi pengusaha kecil dengan mulai memiliki badan usaha, serta merekrut karyawan meski jumlahnya masih sangat terbatas.
"Kalau bapak nanti mau naik pangkat jadi pengusaha kecil, nah pengusaha kecil itu udah punya CV atau PT, itu baru punya karyawan. Tapi punya karyawan itu enggak banyak, satu orang dulu. Saya juga dulu punya karyawan satu orang. Karena saya jadi pemiliknya, saya jadi direkturnya, saya jadi manajernya, saya jadi karyawan, yang direkrut satu aja yang bantu-bantu. Itu pengusaha mikro namanya," katanya.
Lihat Juga :![]() JOGJA FINANCIAL FESTIVAL 2026 BP BUMN Bidik Perusahaan Negara Cuan Rp450 T pada 2029 |
Selanjutnya, pengusaha kecil naik kelas, tetapi belum sampai level menengah. CT kemudian menceritakan dirinya baru mulai meminjam modal usaha beberapa tahun setelah merintis bisnis.
"Saya baru pertama pinjam uang itu, saya memulai usaha '81, '87 baru saya pinjam uang. Dulu ada program namanya KIK-KMKP. Saya ingat bener itu, Rp75 juta. KI 75 gitu, itu harus punya badan usaha, enggak bisa kalau enggak punya badan usaha. Nah, di situlah baru mulai," tuturnya.
Setelah itu, kata CT, usaha akan berkembang secara bertahap mulai dari merekrut level manajer hingga direksi. Bahkan pada tahap tertentu, pemilik usaha tak lagi perlu menjadi direksi.
"Jadi ada tahapannya, enggak boleh gitu masih di sini mau jadi bos, ya wassalam, besar pasak dari tiang tadi. Jadi semua tuh ada tahapannya dan saya sudah lewat tahapan itu semua," jelasnya.
CT menegaskan perjalanan bisnis harus dijalani setahap demi setahap. Ia pun menyarankan Prayitno untuk tidak memaksakan merekrut karyawan jika arus kas usahanya belum kuat.
"Saya mulai dari informal, pengusaha kecil, pengusaha menengah, pengusaha besar, sampai kalau yang sekarang ini dibilang konglomerat ya, itu sudah saya lewatin semua. Jadi intinya adalah bapak kalau cash flow-nya belum cukup, enggak usah rekrut. Ya, niat baik mempekerjakan orang, alhamdulillah, tapi kalau belum cukup uangnya, cash flow-nya, ya jangan, kerja sendiri aja dibantu-bantu sama keluarga," pungkasnya.
(kum/pta) Add
as a preferred source on Google
