Michael Saylor, Investor Jumbo Bitcoin Berharta Rp85 T
Saylor memang terkenal sebagai 'fans berat' Bitcoin. Ia yakin aset kripto tersebut akan menggantikan emas sebagai alat lindung nilai.
Meski dikritik sejumlah tokoh, Saylor tetap yakin Bitcoin merupakan alat lindung nilai yang tahan inflasi, serta aset finansial yang revolusioner.
Saking optimisnya dengan Si Raja Koin, pada laporan kinerja kuartalan Juli 2020, Saylor mengumumkan MicroStrategy akan mempertimbangkan membeli Bitcoin, emas, atau aset alternatif lain dibanding hanya menyimpan uang tunai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebulan berselang, MicroStrategy merogoh US$250 juta kas perusahaan untuk memborong 21.454 Bitcoin. Langkah ini ikut mempopulerkan istilah digital asset treasury (DAT), yang berarti perusahaan publik yang menyimpan aset kripto sebagai cadangan perusahaan.
MicroStrategy kemudian terus menambah kepemilikan Bitcoin hingga mencapai puluhan miliar dolar AS.
Pada Februari 2025, MicroStrategy berganti nama menjadi Strategy. Logo perusahaan juga baru, yakni menggunakan huruf "B" bergaya khusus sebagai simbol strategi Bitcoin mereka.
Tak cuma itu, warna utama perusahaan juga diubah menjadi oranye. Warna ini melambangkan energi, kecerdasan, dan Bitcoin.
Badai dan Kontroversi
Pada 2000, SEC menuduh Saylor dan dua pejabat MicroStrategy memanipulasi laporan keuangan selama dua tahun sebelumnya.
Namun, SEC dan perusahaan akhirnya mencapai penyelesaian. Perusahaan setuju menunjuk direktur independen untuk memastikan kepatuhan regulasi.
Saylor hanya membayar denda US$350 ribu dan mengembalikan keuntungan pribadi sebesar US$8,3 juta.
Setelahnya, MicroStrategy mengumumkan akan merevisi laporan keuangan dua tahun sebelumnya. Akibat kabar itu, harga saham anjlok 62 persen dalam sehari menjadi US$120 per saham. Kejatuhan itu dianggap sebagai salah satu momen penting pecahnya gelembung dot-com.
Seiring anjloknya harga saham perusahaan, kekayaan Saylor turun sekitar US$6 miliar.
Kepemimpinan Saylor menuai kritik sejumlah investor kakap. Pada 8 Agustus 2022, Saylor menjadi executive chairman MicroStrategy dan menunjuk Phong Le sebagai CEO baru.
Di masa pandemi Covid-19, Saylor sempat viral gara-gara memo ke internal pegawai MicroStrategy. Pada Maret 2020, ia menulis memo panjang berisi kritik kebijakan pembatasan sosial.
Menurutnya, konsep social distancing dan pembatasan mobilitas sebagai sesuatu yang 'melemahkan jiwa. Saylor juga ogah menerapkan tutup kantor dan menerapkan bekerja dari rumah (WFH), kecuali diwajibkan secara hukum.
Memo itu sempat bocor ke publik, bahkan dimuat ulang oleh Washington Business Journal.
Ia juga pernah tersandung gugatan penipuan pajak. Pada 31 Agustus 2022, Jaksa Agung Distrik Columbia menggugat Saylor atas dugaan penggelapan pajak.
Saylor dituduh menghindari pembayaran pajak lebih dari US$25 juta dengan mengklaim tinggal di negara bagian lain selama 2005-2021. Pada Juni 2024, ia menyelesaikan sengketa pajak itu dengan membayar denda sebesar US$40 juta.
(pta) Add
as a preferred source on Google