Ekonom Soroti RI Jadi Satu-satunya Negara Outflow di Pasar Obligasi
Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyoroti Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mengalami arus modal keluar (capital outflow) di pasar obligasi (bond market), di tengah tekanan global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Ia mengatakan tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan faktor global karena hampir seluruh negara emerging market menghadapi tekanan serupa. Namun, Indonesia menunjukkan kondisi berbeda di pasar obligasi.
"Kalau kita lihat dari yang bonds market ya, hanya Indonesia yang mengalami outflow. Sedih banget. Hanya Indonesia yang mengalami outflow," ujar Josua dalam Pelatihan Media Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam paparannya, Permata Bank mencatat investor asing masih membukukan net outflow sekitar US$1,48 miliar di pasar obligasi Indonesia sepanjang kuartal I 2026. Sementara di pasar saham, net outflow mencapai US$1,95 miliar.
Josua mengatakan kondisi itu menunjukkan investor global mulai mencermati risiko domestik Indonesia, terutama terkait fiskal dan kualitas kebijakan ekonomi.
"Kita melihat sekali lagi bahwa kondisinya dan bonds market itu tentunya berkaitan sangat erat dengan kondisi kebijakan fiskal dan kebijakan pemerintah," ujarnya.
Ia menegaskan tekanan terhadap Indonesia sudah muncul bahkan sebelum konflik Timur Tengah memanas. Menurutnya, sejumlah indikator peringatan telah muncul sejak awal tahun, mulai dari MSCI hingga revisi outlook lembaga pemeringkat internasional.
MSCI sebelumnya mendepak 19 saham Indonesia dari indeksnya pada Mei 2026, terdiri dari 13 saham small cap dan enam saham standard.
Sementara itu, Moody's dan Fitch sama-sama merevisi outlook Indonesia menjadi negatif meski mempertahankan sovereign rating Indonesia.
Menurut Josua, investor asing menyoroti kondisi fiskal Indonesia, termasuk rendahnya rasio pajak (tax ratio) dan meningkatnya beban bunga utang pemerintah.
Dalam presentasinya, tax ratio Indonesia tercatat hanya 13,3 persen, jauh di bawah median negara peers berperingkat BBB yang mencapai 25,5 persen.
Selain itu, beban bunga utang pemerintah pada 2026 diperkirakan mencapai Rp599,4 triliun atau sekitar 19 persen dari pendapatan negara.
Ia mengatakan Indonesia tidak bisa menutup mata terhadap pentingnya arus modal asing karena secara struktural transaksi berjalan Indonesia masih defisit dan membutuhkan surplus pada financial account untuk menopang neraca pembayaran.
Meski demikian, Josua menilai Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan rupiah, salah satunya melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Ia menyebut langkah tersebut merupakan kebijakan pre-emptive untuk menjaga kredibilitas moneter dan meredam tekanan terhadap rupiah.
"Kebijakan BI ini adalah salah satu kami melihatnya adalah kebijakan yang bold dan pre-emptive," pungkasnya.
(lau/sfr) Add
as a preferred source on Google