Timur Tengah Memanas, Jepang Kucurkan Subsidi Energi Rp57 T

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 05:45 WIB
People walk through Shibuya area in Tokyo on April 7, 2026. (Photo by Yuichi YAMAZAKI / AFP)
Jepang sepakat untuk mengucurkan enyetujui subsidi senilai US$3,2 miliar untuk meringankan biaya energi di tengah Ketegangan Timur Tengah. (FOTO:AFP/YUICHI YAMAZAKI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Jepang telah menyetujui paket pengeluaran tambahan atau subsidi energi sebesar US$3,2 miliar atau setara Rp57,08 triliun (kurs Rp17.840).

Langkah ini bertujuan untuk meringankan kenaikan biaya listrik dan gas karena ketegangan di Timur Tengah yang terus mengganggu pasar energi global, menurut Kyodo News.

Pemerintah menyetujui rencana subsidi darurat pada Selasa (26/5) untuk mendukung rumah tangga dan usaha kecil selama bulan-bulan musim panas, ketika permintaan energi biasanya meningkat dilansir dari Anadolu, Kamis (28/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran yang meningkat atas krisis energi yang berkepanjangan yang terkait dengan ketidakstabilan di sekitar Selat Hormuz, jalur utama untuk transportasi minyak global.

Kondisi Jepang yang sangat bergantung pada pasokan energi impor dari Timur Tengah, menjadi semakin rentan terhadap gangguan yang memengaruhi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair.

Ketegangan geopolitik yang meningkat telah mendorong harga bahan bakar lebih tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi di seluruh Asia, menurut para analis.

Berdasarkan langkah-langkah baru tersebut, Tokyo akan mengalokasikan 513,5 miliar yen dari dana cadangan untuk mensubsidi tagihan listrik dan gas antara Juli dan September, seperti dilaporkan oleh Kyodo News.

Pemerintah memperkirakan bahwa paket tersebut dapat mengurangi biaya utilitas rumah tangga sekitar 5.000 yen selama periode musim panas.

Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Ryosei Akazawa mengatakan dukungan tersebut akan difokuskan terutama pada bulan Agustus, ketika permintaan listrik umumnya mencapai puncaknya secara musiman.

Sementara itu, Perdana Menteri Sanae Takaichi telah mengusulkan anggaran tambahan yang lebih luas senilai hampir US$19 miliar untuk mengimbangi dampak ekonomi dari kenaikan biaya bahan bakar dan inflasi, menurut Reuters.

Para ekonom telah memperingatkan bahwa ketidakstabilan yang berkelanjutan di Timur Tengah dapat memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Jepang dan mempersulit pengelolaan inflasi serta keputusan kebijakan di masa mendatang oleh Bank Sentral Jepang.

[Gambas:Youtube]

(ins) Add as a preferred
source on Google