Siasat Pedagang Warteg Hindari Fenomena Aneh Pembeli 'In This Economy'
Sejumlah Warung Tegal (Warteg) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan memilih untuk tidak menaikkan harga sebagai respons terhadap melonjaknya harga bahan pokok. Mereka khawatir pelanggan kabur jika langkah tersebut diambil.
Daryanto (37), karyawan Warteg Kharisma Bahari di Cilandak Barat mengaku pihaknya harus memutar otak dalam merespons kenaikan harga bahan pokok. Namun, mengutak-atik harga jual dinilai bukan pilihan.
Menurutnya, kenaikan harga jual berpotensi membuat pelanggan kabur yang berujung omset warung merosot drastis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warteg dengan omset sekitar Rp7 juta per hari ini lantas memilih untuk melakukan penyesuaian pada porsi makanan sebagai respons kenaikan bahan pokok. Meski demikian, porsi yang dikurangi hanya pada nasi, dan tidak pada lauknya.
"Kita mainin nasi, biasa 2,5 centong jadi 2 centong tapi ga full. Karena istilahnya biar kita muter uangnya," kata Daryanto kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Dikarenakan tidak ada perubahan harga, pola konsumsi pelanggan dan omset juga tidak berubah.
Menu seperti rendang dan ayam yang harganya lebih mahal masih tetap dilahap pelanggan, meski paketan telur yang lebih ekonomis masih tetap jadi primadona.
"Kalau telur pada abis ya terpaksa mereka makan pakai rendang. Kalau adanya rendang ya, pakainya rendang, kalau misalnya ada ayam ya milihnya ayam yang harga miring. Tapi mereka (pelanggan biasanya) milih yang murah dulu," tuturnya.
Pengusaha warteg takut pelanggan kabur jika melakukan perubahan harga. (CNN Indonesia/Loamy) |
Daryanto menjelaskan pihaknya menjual paket nasi, telur, orek tempe, dan sayur seharga Rp16 ribu. Paket ayam dan sayur dijual seharga Rp19 ribu, sedangkan nasi rendang dan sayur dijual dengan harga Rp24 ribu.
Cerita berbeda datang dari Ike (30), pengelola Warteg Indo Bahari di Jalan Fatmawati. Ia tidak melakukan perubahan porsi maupun harga makanan di warungnya, meski ada kenaikan harga bahan pokok. Ia menyebut wartegnya adalah warteg ekonomis, sehingga takut pelanggan kabur jika melakukan perubahan tersebut.
"Kita enggak naikan harga, takut pelanggan kabur," ujarnya.
Label warung ekonomis ini juga yang jadi alasan Ike tidak menyediakan menu dari daging sapi.
Sebagai solusi merespons kenaikan harga, Ike memilih untuk melakukan penyesuaian ketika belanja. Ayam yang biasa ia stok kini jumlahnya sedikit dikurangi. Solusi tersebut cukup beralasan ketika ia menyebut menu favorit para pelanggan, yakni telur, orek tempe, dan sayur.
Ike mengaku belakangan mengalami penurunan omset penjualan dari biasanya sekitar Rp2,2 juta per hari menjadi Rp1,1 hingga Rp1,5 juta per hari. Namun, hal tersebut dinilai normal karena beberapa waktu terakhir banyak libur panjang.
Menurut Ike, sebagian besar pelanggannya adalah karyawan kantor di sekitar warung. Ia menyebut perubahan omset serupa kerap terjadi saat tanggal tua.
"Kalau abis gajian rame, kalau tanggal tua biasanya sepi," tuturnya.
(lyd/lom) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
