Harga Minyak Mendidih ke US$97 per Barel Imbas Serangan Rudal Iran

CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 10:13 WIB
Harga minyak dunia kembali menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (3/6), seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Ilustrasi. (Dok. Pertamina).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (3/6), seiring memanasnya konflik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan rudal ke Kuwait dan Bahrain.

Di saat yang sama, negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik belum ada kemajuan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$1,05 atau 1,09 persen menjadi US$97,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,01 atau 1,08 persen ke level US$94,77 per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya juga ditutup pada level tertinggi dalam sepekan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Militer AS menyatakan Iran meluncurkan rudal balistik ke arah Kuwait dan Bahrain, namun tidak ada target yang berhasil terkena serangan. Sebagai respons atas upaya serangan tersebut, pasukan AS disebut melancarkan serangan ke Pulau Qeshm di Iran.

Pasar kini terus mencermati perkembangan perang Iran serta nasib proposal kesepakatan yang diajukan AS untuk menghentikan konflik. Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan komunikasi dengan Teheran terus berlangsung, media Iran melaporkan tidak ada kontak antara kedua negara dalam beberapa hari terakhir.

Senior Commodity Strategist ANZ Bank Daniel Hynes mengatakan upaya membuka kembali Selat Hormuz masih menghadapi tantangan besar karena Iran telah menanam ranjau di sejumlah wilayah perairan strategis tersebut.

"Ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang mencoba melintas, tetapi total lalu lintas kapal masih jauh di bawah level sebelum konflik," ujar Hynes.

Lebih dari tiga bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai, konflik masih berada dalam kondisi kebuntuan meski terdapat gencatan senjata yang rapuh di beberapa wilayah.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari sisi pasokan. Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun selama tujuh pekan berturut-turut.

Berdasarkan data yang dikutip pelaku pasar, stok minyak mentah AS berkurang sekitar 6,8 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei. Penurunan tersebut mengindikasikan permintaan energi yang masih kuat di tengah ketidakpastian pasokan global.

Pelaku pasar kini menunggu data resmi persediaan minyak pemerintah AS yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi pasokan di negara konsumen minyak terbesar dunia tersebut.

(ldy/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK