RI Masih Andalkan Batu Bara untuk Pembangkit Listrik hingga April 2026
Kementerian ESDM mencatat kapasitas pembangkit listrik baru yang terpasang mencapai 108 gigawat (GW) hingga April 2026. Dari angka ini, tenaga batu bara mendominasi dengan realisasi sebesar 60,53 GW atau 56 persen.
Plt. Dirjen Ketenagalistrikan Tri Winarno merinci, dari 108 GW yang terpasang di tahun ini, 85 persennya dari energi fosil dan 15 persen dari energi baru terbarukan (EBT).
"Kalau kita lihat dari jenis energi yang digunakan, pembangkit masih menggunakan energi fosil sebesar 91,58 GW atau 85 persen, dengan rincian batu bara 56 persen, gas 23 persen, BBM 6 persen," ujar Tri dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI, Kamis (4/6).
Selain itu, dari 108 GW yang terpasang, sebesar 79,05 GW atau 73 persen, ini berada dalam wilayah usaha PLN yang dikelola baik oleh PLN itu sendiri, maupun Independent Power Producer (IPP).
Sementara 27 persen sisanya dikelola oleh BUMN maupun swasta lainnya dengan skema izin usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri atau IUPTLS, dan Private Power Utility atau PPU, atau wilayah usaha lainnya.
"Porsi 73 persen ini tentunya mengindikasikan pada kita bahwa peran sentral PLN sebagai tulang punggung dalam sistem ketenagalistrikan yang ada di Indonesia," imbuhnya.
Tri menyebutkan sampai April 2026, produksi listrik nasional mencapai 165,51 TWh. Rinciannya, kontribusi batu bara sebesar 64,87 persen, gas 13 persen, BBM sebesar 3,38 persen dan EBT 17,89 persen.
"Porsi ini tentu cukup menggembirakan dan menunjukkan kinerja yang cukup positif dari energi baru terbarukan," jelasnya.
Sementara itu, untuk 2025 realisasi produksi listrik nasional mencapai sekitar 494 TWh dengan porsi batu bara sebesar 66,7 persen, gas sebesar 20,5 persen, dari EBT sebesar 16,31 persen dan BBM sebesar 2,67 persen.
"Struktur bauran energi nasional mencerminkan upaya adanya transisi energi yang terus berjalan, namun masih membutuhkan akselerasi untuk mengurangi dominasi fosil di dalam sistem penaikan listrik nasional," pungkasnya.