Transisi Energi ala Pertamina: Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 17:35 WIB
(Foto: dok Pertamina)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertamina menyatakan menerapkan strategi dual growth dalam mendukung ketahanan dan transisi energi, yaitu optimalisasi bisnis legacy, serta membangun bisnis rendah karbon.

Hal itu disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, pada sesi diskusi panel bertema "Decarbonization: Global Technology Trends and Best Practices" sebagai bagian dari rangkaian World Bank Energy Knowledge and Learning Forum East Asia & Pacific, yakni forum regional terkait transisi energi berkelanjutan di Asia Timur dan Pasifik yang diinisiasi oleh World Bank Group.

Dalam pemaparan bertajuk "Accelerating Energy Transition Through Industrial Decarbonization and Low Carbon Business", Agung menjelaskan upaya transisi energi Pertamina yang bertujuan mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Adapun optimalisasi bisnis legacy dilakukan dengan memaksimalkan potensi nilai di aspek hulu, membangun fleksibilitas di kilang, melakukan transformasi bisnis retail fuel, serta memperluas infrastruktur dan layanan.

Agung mengatakan, Pertamina saat ini memiliki visi, menjaga keamanan energi nasional dan mendorong transisi energi melalui program dekarbonisasi terintegrasi dan membangun bisnis rendah karbon, yang sejalan dengan Asta Cita. Dalam konteks Pertamina, transisi energi yang dijalankan di Indonesia harus diseimbangkan dengan tantangan energi trilema yaitu energy security, affordability dan sustainability.

"Dan di situ saya yakin Pertamina menjadi sebuah contoh, karena di saat dunia ini menghadapi banyak ketidakpastian secara geopolitik, dengan adanya konflik di berbagai belahan dunia, kemudian juga ketidakpastian mengenai bagaimana penanganan climate change," ujar Agung.

Inisiatif dan langkah Pertamina untuk melakukan dekarbonisasi itu pun menjadi pembelajaran bagi para peserta dari berbagai negara.

"Pertamina mendorong pemanfaatan geothermal (panas bumi) sebagai energi bersih serta pengurangan flaring. Pertamina juga mengembangkan energi baru dan terbarukan melalui bisnis rendah karbon, seperti biodiesel, bioethanol, kemudian juga rencana pengembangan CCS/CCUS (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage)," tutur Agung.

Dalam aspek dekarbonisasi, dilakukan pengantian peralatan berbahan bakar fosil dengan peralatan bertenaga listrik. Program ini menghasilkan efisiensi energi sebesar 1,52 MMtCO2e (Million Metric Tons Of Carbon Dioxide), menyumbang 66,86 persen dari total upaya pengurangan emisi Pertamina.

Dalam aspek bisnis rendah karbon, dilakukan melalui inovasi bahan bakar nabati (biofuel). Diprediksi akan ada potensi penjualan biofuel sebesar 60 juta kl pada tahun 2029, dengan proyek utama Bio Refinery Cilacap.

Pertamina juga berupaya memaksimalkan potensi listrik dengan kapasitas 1,4 GW (Gigawatt) dari panas bumi melalui proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan adalah Proyek Geothermal Lahendong Unit 7 & 8 yang telah masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas untuk mendukung transisi energi dan pembangunan rendah karbon.

Masuknya proyek ini dalam Green Book membuka peluang dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank, sehingga mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi nasional sekaligus memperkuat bauran energi bersih Indonesia.

Selain itu, Pertamina telah berkomitmen mengurangi emisi metana (CH4) sebesar 40% dari emisi dasar pada tahun 2021. Di sektor hulu terdapat program zero flaring, yang didukung kampanye deteksi dan perbaikan kebocoran melalui program Leak Detection & Repair Campaign atau LDAR. Program ini berhasil mengurangi emisi metana yang tidak terkontrol sebesar 30-39,7 persen.

Keberhasilan ini salah satunya berada di lapangan PEP Donggi Matindok, yang mengurangi kebocoran sebesar 68,4 persen pada tahun 2025. Pada tahun yang sama, hal serupa diterapkan di JOB Pertamina-Medco E&P Tomori dengan pengurangan emisi CH4 sekitar 30 persen, sementara PT Badak NGL berhasil mengurangi emisi CH4 sebesar 38,7 persen.

(rea/rir)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK