Benarkah Pelemahan Rupiah Bisa Bikin Jumlah Turis Asing Makin Banyak?

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 18:33 WIB
Pelemahan rupiah memang membuat biaya berwisata ke RI semakin murah bagi turis asing, tetapi bukan jaminan Indonesia jadi pilihan untuk berlibur menghabiskan uang. Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS memunculkan anggapan Indonesia bisa menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara atau turis asing lantaran murah.

Dengan kurs yang semakin tinggi, turis asing memang memperoleh lebih banyak rupiah saat menukarkan mata uangnya. Kondisi itu membuat biaya hotel, makanan, transportasi, hingga berbagai aktivitas wisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah dibanding sebelumnya.

Namun, apakah pelemahan rupiah bakal otomatis membuat jumlah wisatawan asing meningkat?

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita mengatakan secara teori pelemahan nilai tukar memang dapat meningkatkan daya saing harga Indonesia di mata wisatawan asing.

"Dengan mata uang mereka yang lebih kuat terhadap rupiah, biaya hotel, restoran, transportasi, hingga aktivitas wisata menjadi relatif lebih murah," kata Ronny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/6).

Kendati demikian, ia menilai hubungan antara pelemahan rupiah dan lonjakan wisatawan asing tidak bersifat otomatis.

"Narasi bahwa 'rupiah melemah maka wisatawan asing pasti membanjir' merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Dalam ekonomi pariwisata, hubungan tersebut ada, tetapi tidak otomatis, tidak linier, dan sering kali bukan faktor dominan," ujarnya.

Menurut Ronny, harga hanya menjadi salah satu pertimbangan wisatawan dalam menentukan tujuan perjalanan. Banyak wisatawan, terutama dari segmen menengah atas, lebih memperhatikan faktor keamanan, kualitas destinasi, kebersihan, kenyamanan, hingga kemudahan akses transportasi.

Ia menjelaskan dampak pelemahan kurs justru lebih sering terlihat pada besaran pengeluaran dan lama tinggal wisatawan yang sudah memutuskan datang ke Indonesia.

"Wisatawan yang sudah memutuskan datang mungkin akan membelanjakan uang lebih banyak karena merasa harga lebih murah, tetapi tidak berarti jumlah kunjungannya melonjak drastis," katanya.

Ronny menambahkan faktor yang paling sensitif memengaruhi keputusan wisatawan asing antara lain konektivitas penerbangan, harga tiket pesawat, keamanan, kualitas infrastruktur, kemudahan visa, hingga daya tarik destinasi wisata.

Menurut dia, wisatawan pada akhirnya tidak hanya mencari destinasi yang murah, tetapi juga pengalaman dan kenyamanan selama berlibur.

"Dalam industri pariwisata global, wisatawan tidak hanya membeli harga murah, tetapi membeli pengalaman, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, dan kualitas destinasi," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai pelemahan rupiah memang dapat memberikan keuntungan kompetitif dari sisi harga bagi Indonesia.

Secara teori, kata Huda, barang dan jasa di Indonesia menjadi lebih murah bagi warga negara asing ketika mata uang mereka menguat terhadap rupiah.

"Permintaan untuk 'terbang' ke Indonesia akan meningkat, entah untuk berbelanja atau menjadi destinasi wisata," ujarnya.

Ia mencontohkan banyak warga Singapura yang memilih berbelanja kebutuhan di Batam. Sebab, nilai tukar dolar Singapura yang lebih tinggi membuat harga barang di Indonesia menjadi relatif lebih murah.

Meski demikian, Huda menilai faktor kurs bukan penentu utama seseorang memutuskan berwisata ke suatu negara.

"Untuk berwisata, saya melihat faktornya bukan mencari negara dengan nilai tukar yang lemah. Ada faktor biaya perjalanan hingga experience yang menjadi faktor individu berkunjung ke negara lain untuk berwisata," katanya.

Menurut dia, pelemahan rupiah bahkan belum tentu mendorong kenaikan jumlah wisatawan ke Bali apabila biaya perjalanan ikut meningkat.

"Apakah orang ke Bali akan meningkat? Belum tentu juga karena ada kenaikan biaya tiket pesawat akibat kenaikan harga minyak global," ujarnya.

Huda menambahkan sejumlah penelitian memang menemukan adanya hubungan antara pelemahan mata uang dan peningkatan kunjungan wisatawan dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, efek tersebut tidak selalu bertahan.

"Dalam jangka pendek itu signifikan. Namun, literature lainnya juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, nilai tukar rupiah yang melemah justru membuat kunjungan wisatawan melemah," katanya.

Menurut Huda, kondisi itu terjadi karena pelemahan kurs yang berlangsung lama pada akhirnya dapat mendorong kenaikan biaya di sektor pariwisata sehingga keuntungan harga murah bagi wisatawan ikut berkurang.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK