Rupiah Sore Lanjut Perkasa ke Rp18.058 usai BI Rate Naik

CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 16:05 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat masih melemah, pada Rabu 3 Oktober 2018 pukul 12.08 WIB 1 US$ dihargai Rp 15.070 di perdagangan pasar spot. Rupiah melemah 0,2% dibandingkan posisi penututupan sehari sebelumnya. CNNIndonesia/Safir M
Analis mengatakan penguatan Rupiah didorong oleh sentimen pasar yang membaik usai Iran dan Israel telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain. (FOTO:CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di level Rp18.058 per dolar AS pada perdagangan Selasa (9/6) sore. Mata uang Garuda menguat 129 poin atau 0,71 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang berada di zona hijau terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,18 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, serta ringgit Malaysia terapresiasi 0,24 persen. Dolar Singapura menguat 0,14 persen, won Korea Selatan terapresiasi 0,37 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.

Namun, sebagian mata uang Asia lainnya bergerak sebaliknya, yakni yen Jepang turun 0,02 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, mata uang utama negara maju juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,06 persen, poundsterling Inggris menguat 0,28 persen, dan dolar Australia menguat 0,13 persen. Di sisi lain, dolar Kanada menguat 0,09 persen, sedangkan franc Swiss menguat 0,10 persen.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan Rupiah didorong oleh sentimen pasar yang membaik usai Iran dan Israel telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain.

"Salah satu isu kunci yang ditekan Washington kepada Teheran dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada akhir Februari," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/6).

[Gambas:Youtube]

Meski begitu, Ibrahim menjelaskan pasar juga khawatir bahwa inflasi yang didorong oleh energi dapat tetap tinggi sehingga mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) serta memperhitungkan kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.

"Hal ini telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS lebih tinggi. Para pedagang akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada bulan Mei, yang akan dirilis hari Rabu, yang diperkirakan akan naik 4,2 persen yoy (year-on-year), setelah angka April yang sudah tinggi sebesar 3,8 persen," jelasnya.

Dari sentimen domestik, ia menyebutkan penguatan Rupiah juga didorong setelah pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru, guna untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah.

"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan," kata Ibrahim.

Adapun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan BI-rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.

Selain itu, BI-rate yang dinaikkan juga sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan Pemerintah.

"Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing," pungkasnya.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah pada Rabu (10/6) berada dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.

(fln/ins) Add as a preferred
source on Google