CNGR Ungkap Ekosistem Hilirisasi Nikel RI Sudah Mapan Sebelum EV
Perusahaan bahan baku baterai CNGR Indonesia menilai fondasi hilirisasi nikel di Indonesia telah terbentuk dengan baik sejak sebelum Pandemi Covid-19, bahkan sebelum gelombang investasi industri kendaraan listrik dan baterai masuk ke Tanah Air.
Director External Relations CNGR Indonesia Magdalena Veronica mengatakan ketersediaan sumber daya nikel yang melimpah serta berkembangnya fasilitas pengolahan menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia.
Menurut dia, ketika CNGR mulai melirik Indonesia sebagai lokasi investasi bahan baku baterai, ekosistem hilirisasi nikel sebenarnya sudah menunjukkan perkembangan yang signifikan.
"Kalau dari pandangan kami, sebelum kami datang ke Indonesia untuk bahan baku baterai tersebut pun, kami sudah melihat hilirisasi khususnya untuk nikel itu sudah cukup tertata baik dari segi sumber dayanya itu cukup," kata Magdalena dalam acara Prime News CNN Indonesia TV, Selasa (9/6).
Ia menjelaskan Indonesia tidak hanya memiliki cadangan nikel yang besar, tetapi juga telah membangun banyak fasilitas peleburan atau smelter yang mendukung proses pengolahan mineral di dalam negeri.
Perkembangan tersebut kemudian mendorong lahirnya berbagai produk intermediate atau produk antara yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
"Terbentuk banyak sekali peleburan dari mineral nikel sendiri, kemudian tercipta banyak produk-produk intermediate penambahan nilai tambah terhadap nikel," jelasnya.
Magdalena mengatakan perkembangan hilirisasi tersebut mulai terlihat sejak pemerintah mendorong pengolahan mineral di dalam negeri pada 2014. Dalam kurun waktu sekitar lima tahun setelah kebijakan itu berjalan, kapasitas produksi hasil hilirisasi nikel meningkat cukup pesat.
"Kemudian dari 2014 kita bisa lihat sampai lima tahun, mungkin di detik sebelum Covid, itu sebenarnya sudah banyak sekali kapasitas produksi dari hilirisasi nikel dan sampai 2025 kita lihat nikel sudah menduduki 67 persen pasokan untuk dunia. Ini menjawab dengan fakta bahwa bukan baru mulai ilirisasinya industri di Indonesia, tetapi sudah mulai memasuki satu titik di mana direquire lebih banyak inovasi lagi untuk ekosistem yang lain," pungkasnya.
(ldy/ins)