Rupiah Bangkit Tinggalkan Rp18 Ribu per Dolar AS, Apa Jamu Kuatnya?
Sejumlah analis menilai penguatan nilai tukar rupiah hingga meninggalkan level Rp18 ribu per dolar AS disebabkan oleh kombinasi sejumlah faktor.
Rupiah sebelumnya nyaris menembus level Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan Senin (8/6) siang. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di posisi Rp18.196 per dolar AS atau melemah 0,89 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Namun, setelah BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin pada Selasa (9/6), rupiah berbalik menguat. Pada perdagangan Rabu (10/6) sore, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.944 per dolar AS, menguat 114 poin atau 0,63 persen. Sementara, pada Kamis (11/6) sore, rupiah sempat kembali tertekan ke Rp17.988 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke 5,5 persen menjadi salah satu faktor utama yang memperbaiki sentimen pasar terhadap rupiah.
Lihat Juga : |
Menurutnya, keputusan BI yang juga akan menggelar rapat mingguan memberikan sinyal bahwa bank sentral memiliki ruang yang lebih besar untuk kembali menaikkan suku bunga apabila diperlukan.
"Langkah BI menaikkan suku bunga dan rapat mingguan ini mensinyalkan bahwa BI akan lebih leluasa untuk kembali menaikkan suku bunga ke depannya," kata Lukman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (11/6).
Selain faktor moneter, Lukman menilai kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi Pertamax turut memberikan sentimen positif terhadap pasar karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap anggaran negara. Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat Rp3.950 per liter.
"Kenaikan harga Pertamax juga positif karena menurunkan beban anggaran," ujarnya.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ariston Tjendra melihat penguatan rupiah tidak hanya berasal dari kebijakan suku bunga BI. Ia menduga terdapat intervensi yang dilakukan otoritas untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
"Menurut saya ada intervensi dari BI dan pemerintah karena rupiah dan IHSG menguat bersamaan," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.
Ia menilai intervensi tersebut dilakukan untuk memperkuat efektivitas kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang diumumkan secara mendadak awal pekan ini.
"Intervensi ini untuk mendukung kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI secara mendadak dua hari lalu," ujarnya.
Secara terpisah, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau investor yang masih menyimpan dolar AS untuk mempertimbangkan melepas kepemilikannya.
Menurut Dasco, salah satu faktor yang turut menopang pergerakan pasar adalah meningkatnya kepercayaan terhadap pemerintah. Ia menilai kondisi tersebut berpengaruh terhadap penguatan nilai tukar rupiah maupun sentimen di pasar keuangan.
"Saya pikir kepercayaan terhadap pemerintah juga semakin kuat, sehingga itu juga berpengaruh terhadap pasar dan juga terhadap penguatan nilai tukar rupiah," ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Kamis (11/6) kemarin.
(lau/sfr)