Bank Dunia Jembreng Angka Pekerja Kelas Menengah RI Sisa 7 Persen

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 20:33 WIB
Bank Dunia mencatat adanya penyusutan angka pekerja kelas menengah di Indonesia hingga 50 persen lebih dalam tujuh tahun. (FOTO:REUTERS/Akhtar Soomro).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia mencatat kondisi pasar tenaga kerja Indonesia dihadapkan tantangan menyusutnya angka pekerja kelas menengah hingga 50 persen lebih dalam tujuh tahun. Jika pada 2018 porsi pekerja kelas menengah mencapai 14,5 persen, pada 2025 tersisa 7 persen saja. 

"Pekerja yang memperoleh pendapatan kelas menengah telah turun tajam dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sedikit di atas 7 persen pada 2025," tulis Bank Dunia dilansir Jumat (12/6).

Meskipun begitu, dalam laporan Indonesia Economic Prospects: Managing Risks, Unlocking Productivity yang dirilis Juni 2026, Bank Dunia mengklaim terdapat perbaikan pada pasar kerja RI. Hal itu seiring pemulihan pertumbuhan ekonomi awal tahun. Namun, kualitas pekerjaan masih menjadi persoalan struktural yang belum teratasi.

Bank Dunia mencatat jumlah pekerja di Indonesia bertambah sekitar 1,9 juta orang pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran turun menjadi 4,9 persen.


Meski demikian, lembaga tersebut menilai sebagian besar lapangan kerja baru justru tercipta di sektor-sektor dengan produktivitas relatif rendah.

Hampir separuh pekerjaan baru terserap di sektor pertanian serta akomodasi dan jasa makanan-minuman. Sebaliknya, sektor yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi, seperti jasa keuangan, tercatat stagnan bahkan mengalami kontraksi.

Di sisi lain, pekerja dengan keterampilan menengah dan tinggi juga menghadapi tekanan pendapatan. Bank Dunia mencatat upah riil kelompok pekerja tersebut turun sekitar 1 hingga 2 persen per tahun sejak 2018.

Kondisi itu turut berdampak pada susutnya jumlah pekerja kelas menengah di Indonesia.

Bank Dunia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian struktural di pasar tenaga kerja Indonesia. Ekonomi memang mampu menciptakan lapangan kerja, tetapi belum cukup menghasilkan pekerjaan yang produktif dan berupah baik untuk mendorong mobilitas ekonomi masyarakat.

"Tren ini menggarisbawahi adanya ketidaksesuaian struktural. Perekonomian menghasilkan lapangan kerja, tetapi belum cukup banyak pekerjaan produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk menopang mobilitas ke atas dan memperluas kelas menengah," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Laporan tersebut juga menyoroti tingginya angka setengah menganggur (underemployment) di Indonesia. Per Agustus 2025, sebanyak 32,7 persen pekerja tercatat bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit dibandingkan yang mereka inginkan.

Angka tersebut terus meningkat secara bertahap sejak 2022 dan menjadi indikasi bahwa kualitas pekerjaan yang tersedia masih relatif rendah.

(ldy/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK