Bank Indonesia Beber Jurus Bauran Kebijakan hingga Rupiah Perkasa Lagi

CNN Indonesia
Sabtu, 13 Jun 2026 04:45 WIB
Deputi Gubernur Senior Bankk Indonesia (BI), Destry Damayanti
Bank Indonesia beberkan berbagai kebijakan yang ditempuh, termasuk naiknya suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen membuat respons pasar kembali positif. (FOTO:CNBC Indonesia/Tri Susilo).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) beberkan berbagai kebijakan yang ditempuh, termasuk naiknya suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5 persen membuat respons pasar kembali positif.

Hal tersebut seiring dengan nilai tukar rupiah yang ditutup menguat 128,5 poin atau 0,71 persen ke Rp17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6) sore.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti megklaim bauran kebijakan BI, meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,5 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, dan pemberian insentif hedging swap bagi investor asing.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter Rupiah dan valuta asing berhasil membuat rupiah terus menguat.

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," ujar Destry dalam keterangan resmi tertulis, Jumat (12/6).

Destry juga membeberkan pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif yang didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

[Gambas:Youtube]

Ia menyebut tingginya minat investor global tercermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp15,11 triliun dan Rp3,91 triliun.

"Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp26,9 triliun. Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," tambahnya.

Kemudian, ia juga mengatakan Ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, Bank Sentral China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Terdapat tiga kesepakatan yang dihasilkan, yaitu sinergi memperkuat tidak hanya ketahanan keuangan masing-masing negara melainkan stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas, dan penguatan Bilateral Currency Swap Agrrement (BCSA).

Selanjutnya, penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah," ujar Destry.

BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

"Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya," tutupnya.

(fln/ins) Add as a preferred
source on Google