DEN Incar Tangki Nganggur Kapasitas 9 Juta Barel untuk Cadangan Energi

CNN Indonesia
Sabtu, 13 Jun 2026 10:10 WIB
DEN menyampaikan pemanfaatan tangki nganggur atau idle ini merupakan solusi untuk biaya yang tidak terlalu tinggi. (FOTO:CNN Indonesia/ Tunggul Damarjati).
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Dewan Energi Nasional (DEN) mengkaji pemanfaatan tangki menganggur atau yang tidak lagi aktif demi memperkuat Cadangan Penyangga Energi (CPE) nasional.

Anggota DEN Satya Widya Yudha menuturkan pemanfaatan tangki nganggur atau idle ini merupakan solusi untuk biaya yang tidak terlalu tinggi.

Satya menerangkan, pemerintah telah memiliki aturan teknis terkait CPE melalui Perpres Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi. Cadangan ini berbeda dengan cadangan operasional karena hanya digunakan saat terjadi kondisi krisis dan darurat.

Dalam beleid tersebut, kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan untuk minyak bumi, LPG, maupun bahan bakar minyak (BBM) ditetapkan setara 30 hari impor nasional.

"Di dalam perpres itu besarnya tangki yang dipakai untuk menimbun baik itu crude, LPG, ataupun juga BBM itu 30 dikalikan, ya ini 30 hari maksudnya dikalikan dengan volume impor kita. Jadi kalau satu hari kita impor berapa juta barel, ya itu dikalikan 30, berarti kan tangkinya gede," kata Satya ditemui di UGM, Sleman, DIY, Jumat (12/6).

Besarnya kebutuhan storage tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah apabila seluruh fasilitas harus dibangun dari nol. Karena itu, DEN mengusulkan pemanfaatan tangki-tangki yang saat ini tidak terpakai namun masih memungkinkan untuk direhabilitasi.

"Karena tangki besar itu sehingga kemampuan negara untuk membangun langsung kan pasti terbatas, apalagi kan ini hanya dipakai di saat kondisi krisis dan darurat, maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle, ya yang idle tapi masih bisa diperbaiki itu dijadikan bagian daripada cadangan penyangga energi," ujarnya.

Satya memperkirakan total kapasitas tangki idle yang berpotensi dimanfaatkan dapat mencapai sekitar 9 juta barel. Namun, seluruh fasilitas tersebut tetap harus melalui proses verifikasi dan perbaikan sebelum dapat digunakan.

DEN dalam hal ini turut mempertimbangkan skenario pemanfaatan tangki milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) demi lebih memperkuat cadangan energi RI.

"Jadi kalau ditotal ya bisa sampai 9 juta barel, kalau ditotal ya, tapi kan harus dicek dulu karena kalau yang sudah idle ya harus diperbaiki," imbuhnya.

Adapun hingga saat ini Indonesia belum pernah menggunakan cadangan penyangga energi untuk kondisi krisis. Menurut Satya, yang terjadi selama ini masih berada pada tahap prakrisis sehingga pemerintah dapat melakukan langkah mitigasi lebih awal.

"Misalkan yang dari Timur Tengah kemarin terhambat terus Pak Presiden melobi ke beberapa negara, kita berharap nanti ada sekitar 150 juta barel dari Rusia, nah itu di dalam rangka untuk memenuhi cadangan operasional kita," katanya.

Mengenai cadangan operasional, Satya menyebut kapasitas penyimpanan yang ada saat ini masih memadai. Namun, pemerintah berencana menambah kapasitas agar dapat menopang kebutuhan hingga 30 hari.

Penambahan kapasitas tersebut direncanakan melalui pembangunan fasilitas baru di Sumatera.

"Pak Bahlil (Menteri ESDM) mengatakan bahwa nanti cadangan storage itu akan ditambah hingga bisa sampai 30 hari untuk cadangan operasional itu," ujarnya.

(kum/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK