Perang Iran Berkecamuk, China Putar Otak Sulap Batu Bara Jadi BBM
China mengambil langkah taktis untuk mengamankan pasokan energinya dengan mengubah batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM), gas hingga bahan kimia lainnya. Upaya ini dilakukan di tengah ketidakpastian geopolitik global kian memanas pasca-perang Iran.
Mongolia Dalam, wilayah penghasil batu bara terbesar di negara tersebut mengumumkan rencana besar untuk membangun basis konversi batu bara terbesar di China.
Proyek raksasa ini dirancang untuk mengubah batu bara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia, sebagai strategi mutakhir mengurangi ketergantungan akut pada impor energi asing. Langkah ini turut mempertegas bagaimana konflik internasional telah memaksa China untuk mempertajam fokusnya pada keamanan energi nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi domestik untuk proyek batu bara-menjadi-minyak, gas, dan kimia guna meningkatkan kemandirian domestik," ujar Wakil Ketua Eksekutif Daerah Otonom Mongolia Dalam di China Huang Zhiqiang dalam konferensi pers terbarunya dilansir dari Reuters, Senin (15/6).
Mongolia Dalam merupakan sebuah wilayah yang kontradiktif, di mana pada satu sisi, wilayah ini adalah produsen energi terbarukan terbesar di China. Di sisi lain, wilayah ini juga menjadi tumpuan bagi pemanfaatan batu bara cair.
Kondisi tersebut menjadikannya sebagai kawasan sempurna di tengah rumitnya transisi energi di China. Negeri Tirai Bambu sendiri dikenal memiliki ketergantungan tinggi pada minyak asing, sementara cadangan batu bara domestiknya cukup berlimpah.
Meski industri hilirisasi batu bara terus berkembang pesat, skala saat tersebut masih tergolong kecil dibandingkan impor minyak dan gas China. Sebagai gambaran, volume produksi gas, cairan, dan bahan kimia dari batu bara pada 2024 hanya mampu menggantikan sekitar 6 persen dari total gas dan minyak mentah yang diimpor China pada tahun tersebut.
Namun, tren itu terus merangkak naik. Pada Mei lalu, Kementerian Lingkungan Hidup China resmi menyetujui proyek percontohan batu bara menjadi olefin senilai 22,1 miliar yuan (sekitar Rp51,5 triliun) di Ordos, Mongolia Dalam.
Proyek berkapasitas 800 ribu metrik ton per tahun itu rencananya akan memproduksi olefin, yakni bahan baku dasar untuk pembuatan plastik dan produk kimia.
Pemanfaatan batu bara domestik yang murah memberikan keunggulan yang kompetitif bagi China dibandingkan para pesaing petrokimia global yang harus membeli minyak mentah dengan harga selangit. Keuntungan tersebut meningkat sejak pecahnya perang Iran, di mana industri batu bara mulai bergeser menjadi petrokimia secara signifikan.
Di sisi lain, China juga mempertimbangkan "pil pahit" bagi lingkungan, lantaran proses konversi batu bara ke produk minyak bumi akan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Hal ini tentu menjadi batu sandungan serius bagi target iklim dan netralitas karbon yang dicanangkan oleh pemerintah China.
Terkait dilema biaya karbon ini, Huang Zhiqiang juga tidak memberikan jawaban langsung. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Mongolia Dalam terus berupaya menyeimbangkan pemanfaatan cadangan batu baranya secara masif, dengan pengembangan energi bersih.
Saat ini, sektor energi terbarukan diklaim telah menyumbang hingga 53 persen dari total kapasitas listrik terpasang di wilayah tersebut.
Lihat Juga :REKOMENDASI SAHAM IHSG Bakal ke Zona Hijau, Cek Saham Berpeluang Cuan Pekan Ini |
Di sisi lain, dokumen pemerintah mengungkapkan adanya rencana untuk mengintegrasikan hidrogen hijau ke dalam proyek batu bara menjadi kimia. Hal itu dilakukan untuk menekan emisi. Namun, langkah ini langsung memicu reaksi keras dari para aktivis energi bersih. Mereka memperingatkan agar adopsi teknologi hijau tidak dijadikan kedok atau pembenaran untuk terus melakukan ekspansi besar-besaran pada sektor batu bara.
Sebagai informasi, Mongolia Dalam memproduksi sekitar 1,25 ton hingga 1,28 miliar ton batu bara setiap tahunnya atau menyumbang lebih dari seperempat dari total produksi nasional China. Dua pertiga dari pasokan raksasa tersebut berasal dari Ordos, kota yang kini bersiap menjadi pusat basis petrokimia berbasis batu bara terbesar di negeri tirai bambu.
as a preferred source on Google