Harga Minyak Naik ke US$79,43 per Barel Menanti Selat Hormuz Dibuka
Harga minyak dunia bergerak ke level US$79,43 per barel pada perdagangan Rabu (17/6). Hal ini didukung sentimen pelaku pasar yang menanti kelanjutan rencana damai perang di Iran dan Amerika Serikat (AS) dan memantau kepastian Selat Hormuz akan dibuka kembali.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 0,6 persen menjadi $79,43 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 0,6 persen menjadi $76,53 per barel.
Penguatan tersebut memulihkan kerugian dari sesi sebelumnya, yakni turun sekitar 5 persen atau ke level terendah dalam tiga bulan pada Selasa (16/6). Adapun pelemahan sebelumnya didorong oleh harapan kesepakatan AS-Iran akan memungkinkan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
"Pasar minyak mengalami koreksi karena ekspektasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali menyusul perjanjian damai tersebut, namun para pedagang menahan diri untuk tidak melakukan penjualan lebih lanjut sambil menunggu rincian lebih lanjut," kata Kepala Strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa.
Ia memperkirakan WTI kemungkinan akan tetap berfluktuasi dalam kisaran $10 di atas atau di bawah $80 per barel.
Kemudian, penguatan ini dipengaruhi oleh rincian kesepakatan damai sementara yang mulai terungkap pada Selasa (16/6) lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut akan menghalangi Teheran untuk memiliki senjata nuklir. Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan memungkinkan Iran menjual minyak setelah penandatanganan.
Nota kesepahaman kesepakatan damai AS-Iran yang belum dipublikasikan tersebut memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari pada April lalu. Hal ini memungkinkan dilakukannya pembicaraan menuju gencatan senjata permanen.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran akan mengizinkan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz yang terblokir sejak awal serangan AS dan Israel.
Namun, pejabat industri mengatakan pemulihan penuh ke tingkat produksi dan penyulingan sebelum perang kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.
Israel telah menjauhkan diri baik dari gencatan senjata bulan April maupun kesepakatan terbaru antara AS dan Iran, sehingga menambah ketidakpastian mengenai apakah gencatan senjata baru ini akan bertahan.
Serangan drone Israel menargetkan tiga kendaraan di Lebanon selatan pada hari Selasa, menewaskan setidaknya empat orang dan melukai beberapa orang lainnya, demikian dilaporkan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA). Trump pun mengeluarkan kecaman publik yang jarang terjadi terhadap taktik militer Israel.
Sementara itu, data menunjukkan bahwa volume minyak mentah yang diolah di Tiongkok pada Mei turun 9,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya ke level terendah dalam hampir empat tahun. Penurunan ini juga menandakan bahwa perusahaan penyulingan mulai menggunakan stok mereka di tengah perang dengan Iran.
Laporan American Petroleum Institute menunjukkan bahwa stok minyak mentah AS turun sebesar 8,3 juta barel pada pekan lalu, kata para sumber. Angka tersebut melampaui perkiraan penurunan sebesar 4,6 juta barel berdasarkan data resmi dari Badan Informasi Energi (EIA) dijadwalkan dirilis pada hari ini.
(fln/ins)