Pemerintah Siapkan Rp400 M untuk Kejar Swasembada Bawang Putih

CNN Indonesia
Rabu, 17 Jun 2026 20:55 WIB
Suasana los pedagang bawang putih di pasar induk Kramat jati, Jakarta, Kamis, 16 Desember 2021. Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan impor bawang putih Indonesia didominasi oleh China. Catatan ini sekaligus membuat Indonesia sebagai negara
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp400 miliar untuk mempercepat penyediaan bibit bawang putih sebagai bagian dari program swasembada komoditas tersebut. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp400 miliar untuk mempercepat penyediaan bibit bawang putih sebagai bagian dari program swasembada komoditas tersebut.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pembibitan bawang putih seluas 5.000 hektare (ha) pada tahun ini.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan program itu menjadi langkah awal pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bawang putih yang saat ini masih mencapai lebih dari 90 persen kebutuhan nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keinginan Presiden (Prabowo Subianto) adalah bagaimana bawang putih sebagai barang pokok penting ini bisa swasembada,"  ujar  Sudaryono dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (17/6).

Menurut dia, target swasembada bawang putih dinilai lebih realistis dibanding swasembada beras karena kebutuhan lahan yang relatif lebih kecil.

Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 100 ribu ha lahan tanam bawang putih untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kendati demikian, tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan lahan maupun minat petani, melainkan penyediaan bibit dalam jumlah besar dan sesuai dengan kondisi iklim Indonesia.

Sudaryono menjelaskan bawang putih tak bisa ditanam di sembarang wilayah. Komoditas tersebut membutuhkan kawasan dataran tinggi seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara yang selama ini menjadi sentra pengembangan bawang putih nasional.

"Tantangannya adalah bagaimana kita menyediakan bibit yang cukup. Jadi tiga tempat itu lebih diarahkan untuk pembibitan secara massal," ujarnya.

Ia mengatakan Indonesia tidak mungkin mengandalkan impor bibit untuk memenuhi kebutuhan penanaman hingga 100 ribu ha. Selain jumlahnya terbatas, bibit impor juga perlu melalui proses adaptasi agar sesuai dengan kondisi agroklimat di dalam negeri.

Karena itu, pemerintah memilih memperkuat sistem penangkaran bibit oleh petani dengan pendampingan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan.

Dalam skema tersebut, petani akan menerima bantuan bibit dari pemerintah untuk dikembangkan menjadi bibit baru. Setelah panen, petani diwajibkan mengembalikan bibit sebanyak 1,5 kali dari jumlah yang diterima, sementara sisanya dapat dijual secara bebas.

"Pemerintah memberikan bridging bibitnya. Jadi petani dikasih bibit, kemudian setelah panen dikembalikan satu setengah kali dan sisanya boleh dijual," kata Sudaryono.

Ia menjelaskan biaya pembibitan bawang putih tergolong tinggi. Untuk satu hektare lahan, kebutuhan biaya produksi mencapai sekitar Rp120 juta, dengan komponen bibit mencapai sekitar Rp75 juta.

Karena itu, pemerintah akan menanggung kebutuhan bibit tersebut melalui dukungan APBN. Berdasarkan perhitungan Kementan, kebutuhan anggaran untuk program pembibitan 5.000 ha mencapai sekitar Rp375 miliar atau mendekati Rp400 miliar.

Sudaryono mengatakan program pembibitan itu mulai dijalankan tahun ini. Selain target 5.000 ha yang didukung APBN, pemerintah juga berharap BUMN dan sektor swasta ikut mengembangkan pembibitan hingga 20 ribu ha.

"Mulai dari tahun ini. APBN untuk 5.000 hektare. BUMN dan swasta diharapkan 20 ribu hektare karena kita mengarah ke 100 ribu hektare," ujar Sudaryono.

Pemerintah memperkirakan itu tersebut mulai menunjukkan hasil dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Pada periode itu, impor bawang putih diharapkan mulai berkurang secara bertahap seiring meningkatnya produksi dalam negeri.

"Kita harapkan dalam tiga-empat tahun konsumsi yang selama ini dipenuhi impor akan berangsur-angsur berkurang. Syukur-syukur sudah nol dan kita bisa swasembada," ujar Sudaryono.

Upaya mengejar swasembada bawang putih dilakukan di tengah tren penurunan impor dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Adapun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor bawang putih Indonesia selama lima tahun terakhir memang cenderung menurun. Pada 2021, volume impor tercatat mencapai 602.745 ton, lalu turun menjadi 566.175 ton pada 2022.

Penurunan berlanjut pada 2023 menjadi 564.027 ton dan kembali menyusut menjadi 555.886 ton pada 2024. Tren penurunan paling tajam terjadi pada 2025 ketika impor bawang putih turun menjadi 450.339 ton atau merosot sekitar 18,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, pasokan bawang putih Indonesia masih didominasi impor. BPS mencatat China tetap menjadi negara asal utama impor bawang putih Indonesia sepanjang periode 2021-2025.

[Gambas:Video CNN]

(del/sfr) Add as a preferred
source on Google