BI Kerek Suku Bunga Lagi, Bagaimana Nasib Negara ASEAN Lain?
Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.
Langkah ini membuat RI menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memperketat kebijakan moneter di tengah tekanan nilai tukar dan tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Kebijakan BI kontras dengan sejumlah bank sentral lain di kawasan ASEAN yang justru memilih mempertahankan suku bunga, bahkan ada yang sempat memangkasnya demi menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Sejak awal tahun, mayoritas otoritas moneter di Asia Tenggara menghadapi tantangan yang relatif serupa, mulai dari gejolak pasar keuangan global, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi, hingga perlambatan ekonomi dunia. Namun respons yang diambil masing-masing negara berbeda-beda sesuai kondisi ekonomi domestik mereka.
Berikut arah kebijakan bank sentral di lima negara ASEAN sepanjang 2026:
Indonesia
Indonesia menjadi salah satu negara ASEAN yang memilih memperketat kebijakan moneter pada tahun ini. Setelah sempat menahan suku bunga di awal tahun, BI mulai menaikkan BI Rate secara bertahap seiring tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pada 9 Juni 2026, BI mengambil langkah di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Keputusan itu diambil setelah rupiah terus terdepresiasi hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS.
Selanjutnya, dalam RDG 17-18 Juni 2026, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus menjaga inflasi 2026-2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Malaysia
Berbeda dengan Indonesia, Bank Negara Malaysia (BNM) memilih mempertahankan Overnight Policy Rate (OPR) di level 2,75 persen sepanjang 2026, termasuk dalam keputusan terakhir pada 7 Mei 2026.
Melansir keterangan BNM, keputusan tersebut diambil karena ekonomi Malaysia masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Produk domestik bruto (PDB) Malaysia tumbuh 5,4 persen pada kuartal I 2026, sementara inflasi inti berada di kisaran 2,1 persen.
BNM menilai tingkat suku bunga saat ini masih cukup akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas harga.
Thailand
Bank of Thailand (BOT) menjadi salah satu bank sentral yang mengambil arah berbeda pada awal tahun ini. Pada Februari 2026, BOT memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 1,25 persen menjadi 1 persen.
Melansir hasil rapat Komite Kebijakan Moneter BOT, keputusan tersebut diambil untuk membantu mengurangi beban utang rumah tangga dan pelaku usaha kecil di tengah perlambatan ekonomi.
Meski inflasi Thailand diperkirakan meningkat akibat kenaikan harga energi impor, BOT dalam pertemuan 29 April 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga di level 1 persen guna mendukung pemulihan ekonomi yang masih rapuh.
Singapura
Singapura memiliki pendekatan berbeda dibanding negara ASEAN lainnya. Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) tidak menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama kebijakan moneter, melainkan mengelola nilai tukar dolar Singapura melalui kerangka Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER).
Dalam tinjauan kebijakan Januari dan 14 April 2026, MAS memutuskan mempertahankan kemiringan, lebar, dan titik tengah pita kebijakan S$NEER.
Melansir pernyataan MAS, keputusan itu diambil karena ekonomi Singapura masih ditopang kuat oleh sektor manufaktur dan investasi teknologi, termasuk gelombang investasi kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, kenaikan biaya impor energi mendorong otoritas setempat mempertahankan posisi mata uang yang kuat untuk menekan inflasi impor. MAS juga menaikkan proyeksi inflasi inti 2026 ke kisaran 1,5 persen hingga 2,5 persen.
Vietnam
Sementara itu, State Bank of Vietnam (SBV) mempertahankan suku bunga refinancing rate di level 4,5 persen dan suku bunga diskonto sebesar 3 persen hingga pertengahan tahun.
Melansir data SBV, bank sentral Vietnam memilih menahan suku bunga meski inflasi meningkat hingga sekitar 5,6 persen pada Mei 2026.
Keputusan tersebut diambil karena ekonomi Vietnam masih ditopang pertumbuhan industri manufaktur dan arus investasi asing langsung (FDI) yang kuat.
Namun SBV tetap mencermati tekanan terhadap nilai tukar dong Vietnam dan perkembangan neraca perdagangan yang belakangan mengalami defisit.
(del/ins)