Harga Minyak Naik ke US$78, Pasar Tunggu Arus Kapal Selat Hormuz Pulih

CNN Indonesia
Selasa, 23 Jun 2026 10:23 WIB
Infrastruktur bahan bakar minyak (BBM) milik PT AKR Corporindo Tbk. (Dok. AKR Corporindo).
Harga minyak dunia kembali naik tipis ke US$78 pada perdagangan Selasa (23/6), setelah anjlok lebih dari 3 persen pada sesi sebelumnya. Ilustrasi. (Dok. AKR Corporindo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia kembali naik tipis pada perdagangan Selasa (23/6), setelah mengalami penurunan tajam lebih dari 3 persen pada sesi sebelumnya.

Kenaikan terjadi seiring sikap pelaku pasar yang mulai lebih berhati-hati menunggu kepastian perkembangan kesepakatan damai Amerika Serikat (AS)-Iran, serta pemulihan lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 24 sen atau 0,38 persen menjadi US$78,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 33 sen atau 0,46 persen menjadi US$74,19 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penguatan tersebut terjadi setelah harga minyak anjlok lebih dari 3 persen pada Senin (23/6). Saat itu pasar merespons keputusan AS yang memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Iran menyusul pembicaraan damai awal antara kedua negara.

Sentimen positif juga datang dari meredanya konflik di Lebanon. Para pejabat melaporkan berkurangnya intensitas permusuhan di negara tersebut sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas antara Washington dan Teheran.

Perkembangan itu menjadi kontras dengan situasi pada akhir pekan lalu yang sempat memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan damai yang baru berusia sepekan akan gagal.

Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan perang jika Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Ancaman itu muncul setelah Teheran menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut ditutup.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar masih menyimpan keraguan terhadap keberlangsungan kesepakatan antara AS dan Iran.

"Masih ada skeptisisme yang cukup besar di pasar yang berakar pada ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Teheran. Karena itu, kembalinya harga minyak ke level sebelum perang kemungkinan akan berlangsung lebih lambat, bukan secara langsung," kata Waterer.

Menurut Waterer, pasar sebelumnya terlalu optimis terkait peta jalan perdamaian dan potensi pembukaan kembali Selat Hormuz ke dalam harga minyak. Namun kini para pelaku pasar mulai mengambil sikap yang lebih terukur sembari menunggu bukti konkret bahwa kesepakatan tersebut benar-benar berjalan dan aktivitas pelayaran kembali normal.

[Gambas:Youtube]

(ldy/pta) Add as a preferred
source on Google