Mana Lebih Cuan Usai BI Rate Naik Lagi: Menabung Atau Investasi?

CNN Indonesia
Minggu, 21 Jun 2026 08:50 WIB
Kenaikan BI Rate ke 5,75 persen memunculkan pertanyaan mengenai pilihan terbaik untuk menempatkan dana, apakah menabung atau berinvestasi? (Foto: CNN Indonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai pilihan terbaik untuk menempatkan dana, apakah menabung atau berinvestasi.

Meski bunga deposito berpotensi ikut naik seiring kenaikan BI Rate, sejumlah perencana keuangan menilai kondisi tersebut tidak serta merta membuat menabung lebih menguntungkan dibandingkan investasi.

Perencana Keuangan Aidil Akbar mengatakan menabung dan investasi merupakan dua instrumen yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Menurut dia, menabung memiliki jaminan dan relatif aman, sedangkan investasi mengandung risiko yang lebih tinggi. Karena itu, kenaikan suku bunga tidak otomatis membuat menabung lebih menarik dibandingkan investasi.

"Menabung tidak bisa disamakan dengan investasi karena menabung memiliki jaminan dan relatif aman, sementara investasi memiliki risiko. Jadi tidak bisa langsung disimpulkan menabung lebih menguntungkan hanya karena suku bunga naik," kata Aidil kepada CNNIndonesia.com, Jumat (19/6).

Ia menilai saat ini masyarakat cenderung mengambil sikap wait and see di tengah berbagai ketidakpastian, baik dari dalam maupun luar negeri. Ketidakpastian itu mulai dari kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, hingga hasil penilaian lembaga indeks global MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia.

Menurut Aidil, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih instrumen yang lebih aman seperti deposito dan dolar AS dibandingkan instrumen investasi yang berisiko.

"Orang masih lebih banyak menaruh uang di deposito dan forex, khususnya dolar AS, dibandingkan berinvestasi," ujarnya.

Senada, Perencana Keuangan One Shieldt Budi Rahardjo menilai suku bunga tinggi memang dapat membuat instrumen simpanan seperti deposito terlihat lebih menarik dalam jangka pendek.

Menurut dia, kondisi pasar keuangan yang masih bergejolak membuat instrumen berisiko seperti saham kurang diminati sebagian investor.

"Untuk jangka pendek memang bisa dikatakan menabung atau menempatkan dana di deposito terlihat lebih menguntungkan dibandingkan investasi pada instrumen berisiko tinggi seperti saham di tengah kondisi pasar saat ini," kata Budi.

Meski demikian, Budi mengingatkan investor tetap perlu melihat tujuan keuangan dalam jangka panjang. Menurutnya, kondisi pasar yang sedang terkoreksi justru bisa menjadi peluang untuk membeli aset investasi dengan harga lebih murah.

Ia menilai aset-aset yang saat ini jeblok berpotensi kembali ke nilai wajarnya ketika kondisi ekonomi membaik.

"Kalau orientasinya jangka panjang, momentum seperti saat ini justru bisa dimanfaatkan untuk membeli aset yang sedang terkoreksi tetapi memiliki prospek kembali normal ketika ekonomi membaik," ujarnya.

Budi memperkirakan kenaikan BI Rate akan mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Dana masyarakat kemungkinan lebih banyak mengalir ke deposito karena menawarkan tingkat bunga yang lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

Sementara itu, alokasi dana ke pasar modal seperti saham dan obligasi diperkirakan lebih terbatas. Kendati demikian, ia tetap menyarankan masyarakat menerapkan diversifikasi investasi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Sebelumnya, Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juni 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global serta memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah pada 2026 dan 2027.

(lau/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK