Buah Naga dari Banyuwangi Mengalir ke Singapura hingga Hong Kong

CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 05:45 WIB
Dua yayasan memberikan pendampingan kepada kelompok petani buah naga di Sumbermulyo, Banyuwangi, Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara. (Foto: CNN Indonesia/Taufiq Hidayatullah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memberikan pendampingan kepada kelompok petani buah naga di Sumbermulyo, Banyuwangi, Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara.

Ketua Yayasan Astra-YDBA Rahmat Samulo menjelaskan pendampingan itu dilakukan untuk mendukung Program Desa Sejahtera Astra sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Ia menyebut lewat pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) itu Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo diberikan pelbagai pelatihan untuk meningkatkan hasil panen buah naga yang dimiliki.

Rahmat mengatakan pelatihan itu mulai dari perubahan metode penanaman menjadi organik dan bebas bahan kimia, pembuatan pupuk mandiri hingga sistem sortir hasil panen yang sesuai standar pasar internasional.

"Agar petani dalam proses budi daya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri," jelasnya kepada wartawan, Kamis (25/6).

Selain itu, ia menyebut yayasan ikut menjembatani petani dengan pasar pembeli buah naga. Mulai dari dalam negeri seperti supermarket hingga industri perhotelan dan pasar luar negeri.

"Pemfasilitasan dengan pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," tuturnya.

Dalam kesempatan sama, Ketua Kelompok Tani Sinar Cabe Sumbermulyo, Sumartini mengatakan pihaknya sangat terbantu dengan pendampingan yang diberikan Yayasan Astra-YDBA.

Lewat pelatihan yang diberikan, Sumartini mengatakan petani buah naga memiliki posisi tawar yang jauh lebih tinggi dan tidak hanya terpaku dengan harga jual yang diberikan oleh pasar.

Ia menjelaskan saat ini Kelompok Tani Sinar Cabe telah melakukan penyortiran hasil panen sebelum dijual untuk target konsumen yang berbeda.

Untuk kualitas buah naga A dan B misalnya, Sumartini mengatakan nantinya akan dijual untuk pasar ekspor dan supermarket dan hotel. Sementara untuk sisanya baru akan djiual ke pasar-pasar tradisional.

"Jadi sekarang kita yang menentukan harga. Kalau dulu tergantung pasar beli hasil panen kita berapa apapun kualitasnya," jelasnya.

Berdasarkan data Yayasan Astra-YDBA, selama periode 2022 hingga 2025, kelompok tani Sinar Cabai telah mengekspor total 6,8 ton buah naga ke Singapura dan Hongkong melalui PT Nusa Tropical Indonesia.

Sementara kerja sama produk olahan dilakukan dengan PT Oreng Osing untuk Sale Buah Naga sejak Maret 2024 sebanyak 20 Ton. Sedangkan produk olahan buah kering dilakukan lewat Herbor.id dengan penjualan di pasar domestik sejak September 2024 sebanyak 350 Kg.

Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) memberikan pendampingan kepada kelompok petani buah naga di Sumbermulyo, Banyuwangi, Jawa Timur untuk memperluas pasar hingga ke mancanegara. (Foto: CNN Indonesia/Taufiq Hidayatullah)

Peningkatan harga dan tak busuk

Ia menambahkan lewat metode penanaman organik hasil panen buah naga kelompok mereka juga mengalami peningkatan harga. Selain itu, kualitas buah juga jauh lebih tahan lama dan tidak mudah busuk.

Menurutnya, dari sekitar 30 petani yang tergabung dengan total luas lahan mencapai 9,2 hektare, setiap bulannya bahkan mampu menghasilkan 25-45 ton buah naga.

"Kalau untuk omset, per minggu bisa sampai Rp30-32 juta. Tergantung jenis dan varietas buah naga yang dihasilkan," tuturnya.

Terakhir yang tidak kalah ketinggalan penting, Sumartini menuturkan saat ini petani juga tidak merasa risau jika ada hasil panen yang ditolak karena kerusakan kecil walaupun kualitas dagingnya masih sangat baik.

Pasalnya, kata dia, Yayasan Astra-YDBA menjembatani kelompok tani dengan perusahaan olahan buah naga. Sehingga buah naga yang tidak diterima pasar tetap dapat bisa diolah dan memiliki nilai jual.

"Kalau dulu setiap ada yang rusak sedikit pasti cuma diolah jadi pupuk. Sekarang daging buahnya tetap bisa olah jadi selai, dodol atau sirop. Kulitnya baru digunakan sebagai pupuk organik," jelasnya.

(tfq/asa)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK