Minyak Dunia Balik Normal, Bisakah Harga Pertamax Cs Turun Juli Ini?
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz | CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 08:05 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Fokus pemerintah tidak berhenti pada penyesuaian harga BBM semata. Gejolak harga minyak dunia harus jadi pengingat pentingnya percepatan transisi energi RI. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --
Harga minyak dunia terus bergerak turun seiring dibukanya kembali Selat Hormuzusai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada perdagangan Kamis (25/6), harga minyak Brent turun 40 sen atau 0,54 persen menjadi US$73,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 27 sen atau 0,38 persen ke level US$70,07 per barel.
Penurunan harga minyak tersebut memunculkan pertanyaan apakah harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax berpeluang turun pada Juli mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga BBM nonsubsidi sangat memungkinkan apabila tren harga minyak dunia bertahan di level saat ini. Harga BBM nonsubsidi di Tanah Air pada dasarnya mengikuti perkembangan harga minyak mentah internasional.
"Sangat bisa kalau harga minyak (dunia) kembali ke angka normal. Harga BBM nonsubsidi berbanding lurus dengan harga crude internasional. Jika crude internasional naik, BBM seharusnya bisa naik, demikian sebaliknya," ujar Hadi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (25/6).
Ia menjelaskan rata-rata harga Brent sepanjang Juni masih relatif tinggi, yakni sekitar US$95 per barel. Oleh karena itu, harga keekonomian BBM masih berada di kisaran Rp17.400 per liter.
Namun, jika rata-rata harga minyak mentah turun ke kisaran US$70 per barel, harga Pertamax berpotensi berada di sekitar Rp12.800 per liter.
Hadi pun mengingatkan perubahan harga BBM nonsubsidi tidak ditentukan berdasarkan pergerakan harga harian atau mingguan. Sebab, pemerintah menggunakan acuan Indonesian Crude Price (ICP) yang dihitung berdasarkan rata-rata harga minyak mentah selama satu bulan.
"Perlu diingat kenaikan itu harus monthly basis sesuai dengan patokan ICP yang dikeluarkan setiap bulan sekali," ujar Hadi.
Menurut dia, penurunan harga minyak mentah Brent dari sekitar US$95 per barel menjadi kisaran US$83 per barel dalam waktu singkat tergolong signifikan dan dipicu oleh meredanya konflik di Timur Tengah.
Hadi memperkirakan harga minyak dunia dalam jangka menengah dapat kembali ke kisaran normal, yakni US$60 hingga US$70 per barel. Jika tren pelemahan harga minyak bertahan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi berpeluang dilakukan pada pertengahan Juli.
"Karena saat itu rata rata kurs setengah harga mendekati US$70 par barel. Nota perdamaian kelihatannya sudah fix dan diratifikasi banyak pihak kecuali Israel, sehingga menjadi bukti validasi kuat untuk release blokade," ucapnya.
"Pencabutan sanksi dan ekonomi dunia akan bergerak normal setelah 20 juta barel supply minyak dari Teluk Persia kembali masuk pasar dunia," jelasnya.
Hadi menilai Indonesia juga perlu memanfaatkan momentum harga minyak yang lebih murah untuk memperkuat cadangan energi nasional.
Pemerintah disarankan meningkatkan impor minyak mentah dan BBM dalam jangka pendek dari AS dan Timur Tengah agar cadangan strategis BBM RI kembali naik di angka sekitar 20 hari.
Ia mengatakan saat ini konsumsi BBM nasional sekitar 1,63 juta barel per hari, sedangkan produksi kilang nasional hanya sekitar 1,28 juta barel per hari.
"Minimal ditambah impor BBM dua kali lipat dalam 10 hari ke depan menjadi 0,7 juta barel per hari, sehingga kita bisa aman mengembalikan cadangan strategis pada posisi aman, tidak terjadi kelangkaan di kemudian hari," ujar Hadi.
Hadi juga menyarankan penambahan fasilitas penyimpanan minyak, baik melalui floating storage maupun penyewaan onshore storage di sekitar Kepulauan Riau.
Dalam jangka menengah, Hadi mendorong pembangunan fasilitas penyimpanan baru melalui kerja sama Pertamina dengan pihak ketiga agar tidak membebani APBN.
Selain itu, pemerintah juga diminta terus mempercepat program konversi BBM ke gas, kendaraan listrik, serta pengembangan biodiesel seperti B50 guna mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah.
Sementara dalam jangka panjang, ia menilai pemerintah perlu meningkatkan eksplorasi migas di sektor hulu dan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di sektor hilir.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda. Harga BBM nonsubsidi memang seharusnya mengikuti rata-rata harga minyak mentah global dalam periode tertentu.
"Kalau dalam sebulan ini rata-rata harga minyak mentah global lebih rendah dibandingkan bulan kemarin, maka ya harusnya Juli nanti akan ada penurunan harga BBM nonsubsidi," ujar Huda.
Ia mengatakan pemerintah juga perlu memperhatikan pergerakan harga bahan bakar di kawasan regional seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) yang umumnya bergerak searah dengan harga minyak dunia.
Oleh karena itu, jika tren pelemahan harga minyak berlanjut, pemerintah dinilai perlu segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.
"Saya rasa pemerintah seharusnya menurunkan harga BBM nonsubsidi sesegara mungkin," ujar Huda.
Meski demikian, fokus pemerintah tidak boleh berhenti pada penyesuaian harga BBM semata. Huda menilai gejolak harga minyak dunia harus menjadi pengingat pentingnya percepatan transisi energi di Indonesia.
"Fokusnya kepada transisi energi. Kita harus mempercepat transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan. Secara lingkungan oke, secara perdagangan akan mengurangi impor energi dari luar," kata Huda.
Menurut dia, transisi energi di Indonesia masih jauh dari kata selesai. Oleh karena itu, selain mempercepat pengembangan energi terbarukan, pemerintah juga perlu memperbanyak pembangunan kilang dalam rangka menjamin ketersediaan stok dalam negeri.
"Tapi memang di Indonesia sendiri, transisi energi masih jauh dari kata 'beres'. Akhirnya, lagi-lagi akan tergantung dari impor energi. Untuk itu, pembangunan kilang harusnya diperbanyak untuk menjamin stok lebih lama," ujar Huda.