Bos Bulog Klaim UEA Minta Pasokan Beras RI 50 Ribu Ton per Bulan

CNN Indonesia
Selasa, 30 Jun 2026 15:43 WIB
Dirut Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan Uni Emirat Arab (UEA) berminat mengimpor beras dari RI sebanyak 50 ribu ton per bulan. (Foto: CNN Indonesia/ Dela Naufalia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan minat untuk mengimpor beras dari Indonesia sebanyak 50 ribu ton per bulan.

Menurutnya, permintaan tersebut menjadi salah satu peluang ekspor yang tengah dijajaki Bulog di tengah meningkatnya produksi dan serapan beras nasional.

"Kemarin juga Uni Emirat Arab sempat meminta, kalau enggak salah per bulannya minta 50 ribu ton. Kalau setahun kan berarti sampai 600 ribu ton," kata Rizal dalam konferensi pers di Gudang Bulog Kanwil DKI Jakarta, Jakarta Utara, Senin (29/6).

Rizal mengatakan tingginya produksi gabah nasional tahun ini membuat Bulog mampu meningkatkan penyerapan beras secara signifikan. Hingga akhir Juni tahun ini, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80 persen dari target pengadaan 4 juta ton.

"Serapan sampai bulan Juni ini sudah mencapai 80 persen dari total target 4 juta ton berarti lebih dari 3,2 juta ton. Ini masih ada enam bulan lagi ke depan. Jadi prediksi kami serapan kami mungkin bisa di atas 4,5 (juta ton) atau bahkan sampai 5 juta ton," ujarnya.

Menurut Rizal, peningkatan serapan tersebut membuat Bulog perlu memperluas penyaluran beras, tak hanya untuk kebutuhan domestik tetapi juga melalui ekspor.

"Serapan yang tinggi ini perlu adanya pengeluaran. Pengeluaran ini salah satunya selain untuk pengeluaran di dalam negeri kita juga fokus untuk ekspor ke luar negeri," katanya.

Selain UEA, Rizal mengatakan Bulog juga tengah menjajaki ekspor ke Malaysia. Dalam waktu dekat, Bulog berencana bertemu dengan pihak Malaysia untuk membahas penawaran ekspor hingga 500 ribu ton beras.

"Yang pertama adalah untuk program ke Malaysia yang 500 ribu ton. Mungkin dalam waktu dekat kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran," ujarnya.

Ia menambahkan peluang ekspor juga datang dari Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG).

"Tidak hanya Malaysia, ada potensi-potensi yang lain. Ditambah lagi ke depan adanya potensi dari Singapura maupun negara-negara tetangga kita, Timor Leste maupun PNG," kata Rizal.

Khusus untuk rencana ekspor ke Singapura, Rizal memastikan Bulog telah menyiapkan stok sekitar 200 ribu ton beras premium dengan spesifikasi pecahan 5 persen.

Stok tersebut disiapkan untuk memenuhi permintaan ekspor sewaktu-waktu, termasuk rencana pengiriman awal sebanyak 10 ribu ton yang sebelumnya diusulkan pemerintah kepada Singapura.

"Yang 10 ribu ton (wacana ekspor beras ke Singapura) tersebut jadi kita sudah siapkan bareng dengan nanti proses yang untuk 500 ribu ton pesanan dari Malaysia. Beras premium pecahan 5 persen kami sekarang stok ada sekitar 200 ribu ton standby. Kalau sewaktu-waktu diminta cepat kita bisa kirimkan," ujarnya.

Data FAO Food Outlook edisi Mei dan Juni 2026 juga menunjukkan Indonesia diproyeksikan menjadi produsen beras terbesar keempat di dunia, di bawah India, China, dan Bangladesh. Di saat sejumlah negara mengalami perlambatan produksi, Indonesia disebut mencatat tren peningkatan produksi beras.

Pemerintah juga menargetkan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton pada 2026 dan meningkat menjadi 34,83 juta ton pada 2027, setelah realisasi produksi 2025 sebesar 34,69 juta ton.

Sementara itu, stok beras yang dikuasai Bulog telah mencapai sekitar 5,169 juta ton, sehingga pemerintah mulai menjajaki perluasan pasar ekspor di tengah meningkatnya produksi dalam negeri.

(del/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK