Banjir Likuiditas Akhir Tahun, Himbara Bakal Kantongi Dana SAL Rp381 T
Menurut dia, penempatan SAL juga membantu menurunkan biaya dana (cost of fund), sehingga bank memiliki ruang untuk menjaga pembiayaan tetap kompetitif. Dampaknya, masyarakat dan UMKM dapat memperoleh akses pembiayaan yang lebih terjangkau, sehingga aktivitas ekonomi dapat terus tumbuh.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN menyatakan tambahan dana SAL menjadi amunisi untuk memperkuat likuiditas sekaligus mengakselerasi penyaluran kredit.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penempatan dana tersebut menjadi langkah strategis untuk menjaga likuiditas tetap stabil di tengah berbagai tantangan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Keuangan atas kepercayaan yang diberikan kepada BTN. Penempatan dana SAL ini sangat penting bagi kami. Ini bukan sekadar memperkuat fundamental likuiditas perusahaan, tetapi menjadi stimulus bagi kami untuk terus menggerakkan roda perekonomian melalui penyaluran kredit yang lebih agresif namun tetap terukur," ujar Nixon dalam keterangan tertulis.
Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti mengatakan likuiditas yang lebih kuat akan dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor yang memiliki dampak besar terhadap perekonomian, khususnya sektor perumahan.
"Tugas kami adalah memastikan likuiditas ini tersalurkan dengan efektif ke sektor riil. Kami optimistis, dengan total dana SAL yang ada, BTN dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan kredit yang berkualitas," ujar Venda.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan bakal kembali mengguyur perbankan dengan dana pemerintah sebesar Rp381 triliun hingga akhir tahun ini. Rinciannya Rp281 triliun akan langsung diberikan ke perbankan dan Rp100 triliun sebagai dana cadangan yang disimpan di Bank Indonesia (BI).
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan kebijakan ini untuk memastikan likuiditas perbankan benar-benar terjaga dan sanggup menyalurkan kredit.
"Setelah dievaluasi, diambil kesimpulan bahwa dana pemerintah di perbankan akan dikembalikan lagi yang kemarin Rp281 triliun akan dikembalikan lagi Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir 2026, Desember 2026," ujar Juda dalam konferensi pers di DPR RI, Senin (29/6).
"Di samping itu ada tambahan 100 triliun sebagai standby in case diperlukan dan memang perbankan masih memerlukan likuiditas untuk menyalurkan kredit," imbuhnya.
Menurut Juda, sampai saat ini masih banyak permintaan kredit ke perbankan. Pemerintah pun ingin memastikan bahwa perbankan tidak terkendala dana dalam penyalurannya.
"Karena informasi dari perbankan, permintaan kredit itu masih cukup, masih masih cukup tinggi tetapi likuiditas perlu dijaga agar bank bisa menyalurkan pertumbuhan kredit," jelasnya.
Juda mengungkapkan tingginya permintaan kredit tercermin dari realisasi hingga Mei, di mana kredit tumbuh di atas 10 persen. Oleh sebab itu, kebijakan guyur dana ke perbankan ditargetkan ampuh mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi lagi.
"Diperkirakan di Mei kredit tumbuh 11,5 persen. Kami harapkan pertumbuhan kredit juga masih double digit di bulan-bulan ke depan," pungkasnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga kondisi likuiditas perbankan di kondisi saat ini, termasuk dengan mengguyur kembali dana ke bank.
(dhz/ins) Add
as a preferred source on Google