ANALISIS

Belajar dari LPG, Adakah Strategi Mulus untuk Migrasi CNG?

CNN Indonesia
Jumat, 03 Jul 2026 07:25 WIB
Suasana pangkalan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram dan warga yang membeli gas di salah satu pangkalan gas di Jakarta, Jumat, 31 Januari 2025. CNNIndonesia/Adhi Wicaksono
langkah apa yang harus dilakukan pemerintah untuk siap beralih dari LPG ke CNG tanpa mengulang masalah kelangkaan saat peralihan minyak tanah ke LPG dahulu? (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Sementara itu, Pengamat Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti mengungkapkan apabila dilihat secara ekonomis, CNG memang idealnya lebih efisien sekitar 30-40 persen dibanding LPG. Namun, ia menyebut kelemahannya berupa standardisasi keselamatan dan teknologi yang belum siap sepenuhnya.

Yayan menyebut penggunaan CNG berpeluang memberikan efisiensi 5-7 persen berdasarkan kondisi dan basis data yang ada saat ini. Menurutnya, tingkat efisiensi tersebut bahkan dapat meningkat hingga di atas 10 persen apabila investasi untuk mendukung pengembangan infrastruktur telah memadai.

"Minimal dengan database (subsidi) yang sekarang, teknologinya sudah ok, akan terjadi penghematan 5-10 persen," ungkap Yayan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai pemerintah perlu memprioritaskan kesiapan wilayah sebelum menjalankan transisi menuju CNG. Menurutnya, implementasi saat ini baru relatif siap di kawasan Pantai Utara Jawa yang dekat dengan jaringan energi Pertamina, mulai dari Tangerang, sebagian Jakarta, Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon hingga Semarang.

Sementara itu, daerah lain masih membutuhkan investasi infrastruktur, seperti pembangunan high pressure storage dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG).

"Mungkin saat ini bisa dilakukan pengiriman CNG deployment lewat tabung seperti SPBU, tapi sangat berisiko tinggi dari sisi keselamatan dan keamanan," jelas Yayan.

Selain kesiapan infrastruktur, Yayan juga mendorong pemerintah merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penerbitan Lisensi Bisnis Berisiko Tinggi melalui OSS guna menyederhanakan perizinan kegiatan penyimpanan, transportasi, dan perdagangan gas. Menurutnya, jumlah perizinan dapat dipangkas dari sekitar 320 izin menjadi 140 izin.

Di sisi teknis, pemerintah juga dinilai perlu mengadopsi standar sertifikasi tabung CNG 3 kilogram yang lebih modern, seperti teknologi Metal Organic Framework (MOF) untuk meningkatkan aspek keselamatan sekaligus mempermudah penyimpanan gas. Menurut dia, pengembangan ekosistem industri CNG juga perlu dipercepat karena lebih efisien dibandingkan LPG.

"CNG lebih efisien 30-40 persen dibandingkan LPG. Harga CNG itu sebesar Rp6.800-7.600 per meter kubik, jadi relatif sangat kompetitif dibandingkan saat ini dengan harga keekonomian LPG 3 kilogram Rp42.750," kata Yayan.

Ia menambahkan CNG juga memiliki keunggulan karena tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia mengingat Indonesia memiliki cadangan gas yang melimpah. Namun, ia mengingatkan manfaat tersebut tidak akan optimal apabila rantai pasok belum dibenahi.

"Risiko CNG terhadap harga minyak dunia lebih stabil karena kita punya reserve yang banyak, akan tetapi jika tidak diimbangi dengan rantai pasok yang efisien akan tetap mahal. Jadi harus dibereskan terlebih dahulu rantai pasoknya," pungkasnya.

(ins) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2