Tito Bongkar Alasan Produk Halal RI Justru Datang dari China-Brasil
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyoroti ironi industri halal global yang justru didominasi negara-negara non-muslim, seperti China, Brasil, dan Australia. Padahal, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan menjadi salah satu pasar terbesar bagi produk halal.
Menurut Tito, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekonomi syariah seharusnya dipandang sebagai peluang ekonomi, bukan semata-mata isu keagamaan.
"Ekonomi syariah ini jangan dilihat dulu sebagai religious issue. Itu penting memang, berdasarkan syariah. Tapi kalau saya lebih melihatnya ini adalah sebagai potensi ekonomi," ujar Tito usai menghadiri Anugerah Adinata Syariah 2026 di Jakarta, Senin (7/7).
Ia mengatakan negara-negara non-muslim mampu membaca besarnya permintaan produk halal dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim sehingga menjadi produsen utama berbagai produk bersertifikat halal.
"Data yang saya dapat, negara penghasil sertifikasi halal justru negara-negara yang memang bukan negara muslim. Contoh China, kemudian Brasil, kemudian Australia. Mereka tahu di negara-negara muslim itu permintaannya besar terhadap produk halal," katanya.
Tito menilai Indonesia semestinya mampu memanfaatkan potensi tersebut mengingat besarnya pasar domestik sekaligus peluang ekspor ke negara-negara dengan populasi muslim besar.
"Nah ini kan ironis. Harusnya produk itu dikuasai oleh negara-negara yang mayoritas muslim. Sementara Indonesia adalah salah satu konsumen terbesar untuk produk halal," ujarnya.
Ia pun mengingatkan agar pengembangan ekonomi syariah tidak dimaknai sebagai upaya syariahisasi, melainkan sebagai strategi memperkuat perekonomian nasional. Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar seluruh daerah, termasuk yang berpenduduk non-muslim, dapat melihat ekonomi syariah sebagai peluang bisnis.
"Jangan berpikir langsung, 'oh ini akan terjadi syariahisasi di mana-mana'. Kita harus melihat potensi ekonominya, sehingga daerah-daerah berlomba mengembangkan ekonomi syariah agar menjadi kontributor bagi pertumbuhan ekonomi," katanya.
Lebih lanjut, Tito mengatakan Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan industri halal, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun pasar ekspor ke kawasan Timur Tengah, India, Pakistan, hingga Bangladesh.
"Saya lebih melihatnya ke sisi potensi ekonominya," pungkas Tito.
(lau/ins)