Respons BI soal Rupiah Kembali Dekati Level Rp18 Ribu per Dolar AS

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 20:40 WIB
Bank Indonesia merespons soal nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18 ribu per dolar AS. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) merespons soal nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18 ribu per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Selasa (7/7) sore, rupiah berada di level Rp17.980 setelah menguat 15 poin atau 0,08 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, perkembangan rupiah masih tergolong lebih baik dibandingkan sejumlah mata uang negara lain.

"Rupiah perkembangannya relatively termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain," katanya ketika ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).

Merujuk data Bloomberg pada periode 17 Juni hingga 6 Juli 2026, ia mengungkap mata uang Rusia melemah 5,5 persen, mata uang Chile sekitar 4 persen, mata uang Thailand 2,3 persen, sedangkan rupiah melemah 1,4 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan melemah 1 persen, peso Filipina sekitar 1 persen, rupee India 0,7 persen, dan yuan China 0,5 persen.

Denny menegaskan BI akan terus melakukan langkah stabilisasi agar nilai tukar rupiah tetap terjaga.

"Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat," ujarnya.

Dia mengatakan BI terus berada di pasar selama 24 jam, baik di pasar luar negeri maupun domestik, melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga non-deliverable forward (NDF).

Ia juga mengungkap penyebab rupiah kembali mendekati Rp18 ribu lantaran dipengaruhi sentimen global, terutama setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026.

FOMC Federal Reserve (The Fed) sejatinya mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen-3,75 persen, tetapi pelaku pasar justru mencermati sinyal suku bunga berpotensi kembali naik karena sejumlah pejabat The Fed yang memberikan sinyal hawkish.

"Sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," kata Denny

Menurut dia, sinyal tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) secara signifikan. Indeks DXY yang pada Januari 2026 masih berada di level 95, meningkat menjadi 101 pada akhir Juni. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam satu tahun terakhir.

"Kombinasi signal hawkish pejabat The Fed dan juga naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap USD," ujar Denny.

Menanggapi pertanyaan mengenai pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang sebelumnya memperkirakan rupiah menguat pada Juli hingga Agustus, Ramdan menegaskan kondisi pasar keuangan bersifat dinamis.

"Perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh karena itu tadi saya sampaikan sinyal hawkish dari The Fed itu muncul di tanggal 17 Juni 2026," ujar Denny.

(dhz/pta)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK