Tarif TransJakarta Mau Naik, Skema Langganan Rp200 Ribu Solusi Hemat?

CNN Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026 08:36 WIB
Sejumlah warga menggunakan transportasi publik bus Transjakarta di Halte CSW, Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Skema itu diusulkan bersama rencana penyesuaian tarif reguler Transjakarta menjadi Rp5.000 untuk layanan BRT, non-BRT, dan mikrotrans yang terintegrasi. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggulirkan wacana skema berlangganan tarif TransJakarta sebesar Rp200 ribu per bulan. Hal tersebut diusulkan oleh Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) terkait tarif Transjakarta dan Transjabodetabek.

Ketua DTKJ Sugihardjo mengusulkan tarif berlangganan Transjakarta agar ongkos pekerja yang menggunakan angkutan umum tersebut setiap hari menjadi lebih terjangkau.

Skema itu diusulkan bersamaan dengan rencana penyesuaian tarif reguler Transjakarta menjadi Rp5.000 untuk layanan BRT, non-BRT, dan mikrotrans yang terintegrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan skema tersebut, pengguna akan memperoleh potongan biaya, berbeda dengan tarif harian. Perhitungan tarif langganan itu didasarkan pada asumsi pengguna melakukan perjalanan pulang pergi selama 25 hari kerja dalam satu bulan.

"Jadi, kalau orang yang bekerja hitungannya sehari sebulan 25 hari kerja, itu tarifnya mestinya kalau Rp5.000 berangkat, Rp5.000 pulang, udah Rp10 ribu. Kan jadi kali 25 hari berapa? Rp250 ribu," kata Sugihardjo, Jumat (3/7).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan usulan DTKJ akan segera dibahas agar bisa mengambil keputusan terkait penyesuaian tarif TransJakarta dan TransJabodetabek.

[Gambas:Youtube]

"Untuk usulan dari dewan transportasi, tentunya segera akan dikaji oleh Pemerintah DKI Jakarta. Saya sudah mendapatkan usulan tersebut," kata Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (7/7) dikutip dari Antara.

Lantas, bagaimana respons para pekerja yang menggunakan TransJakarta terkait skema langganan tersebut?

Putri (25), pekerja yang menggunakan TransJakarta koridor 4D (Pulogadung-Kuningan) sehari-hari menyampaikan dirinya tertarik mendaftar skema langganan tersebut apabila tarif telah dinaikkan menjadi Rp5.000.

Ia menghitung-hitung biaya ongkos naik TransJakarta yang dipakai masih kurang dari Rp200 ribu per bulan karena tidak setiap hari menggunakan angkutan umum ini.

"Sebenarnya tergantung, kalau pake harga Rp5.000 gue setuju (dengan wacana skema langganan. Gue personally sebagai orang yang naik Tj (TransJakarta) untuk kerja agak 50-50 sih. Itungannya kalo 24 hari gue kerja masih less than Rp200 ribu soalnya," ujar Putri saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (8/7).

Meski begitu, Putri berpendapat skema langganan tersebut akan sangat baik untuk para pekerja yang harus double tap ketika transit berpindah koridor.

"Tapi kalo untuk orang lain yg emang sehari-hari naik Tj, udah gitu banyak transitnya yang buat double tap gitu kayanya ok ok aja," kata Putri.

Senada, Tasya (23), pekerja di daerah Menteng, Jakarta Pusat menilai skema langganan akan sangat berguna bagi dirinya apabila tarif TransJabodetabek telah dinaikkan menjadi Rp10 ribu.

Ia menceritakan ketika bekerja dirinya menggunakan TransJakarta koridor T31 (PIK 2-Blok M) lalu transit di Halte Senayan Bank Jakarta menaiki koridor 1 (Kota-Blok M).

"Tergantung, kalau harga TJnya beneran naik ke Rp10 ribu, lebih untung pake member (skema langganan). Tapi kalau tetep di Rp3.500, mungkin gak terlalu menguntungkan juga kalo pake member pun," ungkap Tasya.

Mobilisasinya yang hanya berkisar tiga sampai 4 hari seminggu, termasuk bepergian saat akhir pekan membuat Tasya harus kalkulatif dalam menentukan apakah akan mendaftar skema langganan tersebut atau tidak.

"Pas wfo 3 kali seminggu dan pp, sama kadang weekend klo mau jalan ke arah jaksel (Jakarta Selatan) atau jakpus (Jakarta Pusat). Jadi mungkin sekitar 3-4 hari per minggu," lanjutnya.

(fln/ins) Add as a preferred
source on Google