Bahlil Wanti-wanti Tinjau RKAB Pengusaha Tambang Tak Pakai B50
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengancam akan meninjau kembali Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan, khususnya di sektor pertambangan, apabila tidak menggunakan biodiesel B50 sesuai kebijakan mandatori pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran program mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7).
Bahlil mengatakan pada awalnya sejumlah pelaku usaha enggan menggunakan B50 dengan alasan harganya lebih mahal.
Namun, pemerintah tetap mendorong penggunaan bahan bakar tersebut karena merupakan produk dalam negeri yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
"Awalnya pengusaha-pengusaha ini, nggak mau pakai karena harganya katanya mahal. Saya sudah bilang kalau kalian enggak pakai B50, RKAB-nya saya tinjau. Jadi supaya tidak ada alasan-alasan. Ini harus kita pakai produk dalam negeri, jangan asing-asing terus," ujar Bahlil sambil bercanda.
Di sisi lain, Bahlil menegaskan B50 bukan hanya sekadar campuran bahan bakar fosil dengan bahan bakar nabati, tetapi juga menjadi simbol keberanian pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya domestik untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Sekarang itu sudah dipakai 56 persen dari total solar yang sudah jalan. Jadi nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50," jelasnya.
Selain meluncurkan B50, Bahlil juga melaporkan kepada Presiden bahwa pemerintah tengah menyiapkan program mandatori etanol untuk bahan bakar bensin mulai 2027. Pada tahap awal, kadar campuran etanol ditargetkan sebesar 10 persen hingga 20 persen.
Ia mengatakan bahan baku etanol akan berasal dari tebu, singkong, dan jagung. Pengembangannya akan melibatkan Danantara, Pertamina, serta pihak swasta.
"Kami melaporkan bahwa dengan keberhasilan B50, maka kita mau kopi, mau contoh untuk bensin, yaitu etanol," pungkasnya.
(ldy/sfr)