Riset Bongkar Beda Cara Habiskan Uang ala Old Money vs OKB

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 15:10 WIB
Riset Boston Consulting Group (BCG) membeberkan cara new money alias orang kaya baru (OKB) dan old money atau orang kaya turun-temurun dalam menghabiskan uang. Ilustrasi. (iStockphoto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Riset Boston Consulting Group (BCG) membeberkan cara new money alias orang kaya baru (OKB) dan old money atau orang kaya turun-temurun dalam menghabiskan uang.

Mengutip Reuters, ledakan industri kecerdasan buatan (AI) dan teknologi antariksa telah berhasil melahirkan banyak miliarder baru, tetapi cara mereka membelanjakan uangnya justru di luar dugaan.

Berbeda dengan kalangan old money yang suka memborong tas mewah atau baju desainer, para jutawan teknologi baru ini justru lebih hemat. Pengeluaran new money untuk pakaian bermerek dan barang mewah tercatat sepertiga lebih sedikit.

Kepala Tim Kemewahan Global BCG Filippo Bianchi mengungkapkan prioritas pengeluaran utama kaum OKB teknologi ini beralih ke aset tahan lama seperti properti, kapal pesiar, dan mobil, serta pengalaman hidup yang unik.

Selera mereka terbilang unik, cenderung eksentrik, dan menjauh dari standar kemewahan tradisional.

Misalnya, seorang mantan ilmuwan data di SpaceX Chip, yang baru mencairkan sahamnya senilai US$3,5 juta atau setara Rp63,42 miliar (asumsi kurs Rp18.120 per dolar AS).

Dibanding membeli barang bermerek, ia justru membeli sebuah meteorit seharga US$10 ribu atau sekitar Rp181,2 juta dan truk pemadam kebakaran bekas senilai US$5.000 atau Rp90,6 juta hanya untuk memeriahkan pesta ulang tahun anaknya yang berusia tiga tahun.

Serupa, mantan pakar strategi AI di OpenAI Zack Kass menggunakan keuntungan sahamnya untuk membeli sebuah tim olahraga voli profesional.

"Saya bermain voli di SMA dan perguruan tinggi," ujar Zack.

"Saya benar-benar menggunakan keuntungan dari OpenAI untuk membeli sebuah tim olahraga profesional," tambahnya.

Perbedaan kontras antara new money dan old money juga terlihat jelas dari pemilihan jam tangan. Kaum OKB lebih terpikat pada fungsionalitas daripada gengsi semata.

Banyak dari mereka lebih memilih smartwatch seperti Apple Watch untuk melacak kesehatan harian dibanding jam tangan mekanik berlapis emas.

Namun, jam tangan mewah seperti Rolex dan Cartier tetap dilirik karena bisa dijadikan investasi. Pasalnya, harga bekasnya sering kali jauh lebih mahal daripada harga barunya di toko.

Kendati demikian, Pendiri Harrison Lifestyle Concierge Harrison Colcord menegaskan bahwa bagaimanapun seseorang tidak akan mengenakan jam tangan pintar saat memakai tuksedo atau setelan jas.

Pergeseran selera belanja dari kaum OKB teknologi ini tentu menjadi alarm keras bagi merek-merek fashion raksasa dunia seperti LVMH, Richemont, Hermes, Gucci yang pasarnya sempat mengalami kontraksi dalam dua tahun terakhir.

Merek dengan logo kuat seperti Chanel dan Hermes memang masih punya peluang dilirik oleh OKB tersebut. Namun, untuk pakaian sehari-hari, kaum new money tidak ambil pusing dan memilih tetap kasual.

Bahkan, hal ini tercermin dari pengakuan Chip yang enggan membeli pakaian mewah dan lebih nyaman memakai kaus dan celana pendek yang sudah dikenakan bertahun-tahun.

Bahkan, jaket terakhir yang ia beli justru berasal dari toko barang bekas Goodwill.

"Itulah yang membuat saya nyaman, saya rasa hal itu tidak akan berubah," ujar Chip.

(fln/sfr)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK